jump to navigation

Makna “Lahwal Hadits” Dalam Surah Luqman 4 Juni 2010

Posted by yopie noor in Fiqih.
Tags: , , , , , ,
trackback

soal: Tolong terangkan makna Lahwal Hadits di Surah Luqman ayat 6 dalam kitab-kitab tafsir terkemuka. Benarkah mufassirin sepakat bahwa maknanya adalah nyanyian?

jawab:
Surah Luqman ayat 6 lafadznya sebagai berikut:

‎ومن الناس من يشتر ي لهو الحد ية يضل عن سبيل الله بغير علم ويتخذ ها هزوااوليك لهم عذاب مهين‎‎

“Dan sebagian dari manusia ada yang membeli ‘lahwal-hadits’ untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah dengan tidak mempunyai pengetahuan, dan ia jadikan (ayat-ayat Allah) itu ejekan; adalah bagi mereka adzab yang menghina” (QS. Lukman: 6).

TENTANG MAKNA LAHWAL HADITS ITU ADA BEBERAPA PENDAPAT

Dalam kitab Tafsir az Zaad 6: 315 diterangkan sbb:
a. Berarti nyanyian. Ini adalah pendapat Ibnu Mas’ud, Mujahid, Sa’id bin Jubair, Ikrimah, Qatadah, al Hasan dan Ibnu Abbas.
b. Berarti segala sesuatu yang melalaikan dari Allah, ini pendapat imam al Hasan.
c. Syirik dan kekufuran, pendapat Adh Dhahhak.
d. Kebatilan, pendapat ‘Athaa’.

Dalam Tafsir Qurtubi 14 hal 50, dikatakan:
Imam Ibnu ‘Athiyah berkata: Dengan makna inilah (yakni, nyanyian), Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Jabir bin Abdillah, Mujahid, al Hasan, Sa’id bin Jubair, Qatadah dan Nakh’i menafsirkan kata tersebut.
Imam al Hasan berkata: Lahwal Hadits artinya ma’aazif dan nyanyian, juga berarti syirik dan kekufuran.
Imam al Qasim bin Muhammad berkata: Ia berarti nyanyian, sedang nyanyian itu adalah suatu kebatilan, dan sesuatu yang batil itu tempatnya di neraka.
Dalam Tafsir Baghawi 6 hal 452, termaktub sbb:
Menurut Qatadah, lahwal hadits pengertiannya mencakup semua yang melalaikan dan sifatnya main-main.

Dalam Tafsir Fathul Qadir 4, hal 226, Imam Syaukani berkata: Lahwal hadits adalah segala sesuatu yang dapat melalaikan dari kebaikan, bisa berupa nyanyian, musik obrolan kosong/ bohong dan tiap-tiap yang ada padanya kemungkaran.
Dalam Tafsir Tanwiirul Miqyas hal 254, dikatakan: Ia (lahwal hadits) adalah omongan yang bathil, buku-buku kurafat dan juga berarti nyanyian.
Dalam as Kasy-syaf 2 hal 514, dinyatakan: Lahwal hadits maknanya meliputi begadang sambil ngobrol khurafat, omongan yang tidak ada asal-usulnya, tertawa ria (yang berlebihan), dan fudhul dalam pembicaraan (mau tau urusan orang lain), dan dapat juga berarti nyanyian dan musik.

Imam ash Shabuni dalam Tafsir Shaf-watut-Tafaasir 2 hal 487, beliau berkata: Lahwal hadits adalah segala sesuatu yang melalaikan dari ketaatan kepada Allah dan menghalangi menuju jalan-Nya serta apa saja yang tidak ada kebaikan dan manfaat padanya. Selanjutnya beliau mengutip pendapat Imam Zamakhsyari sbb: al Lahwu adalah tiap-tiap yang bathil-melalaikan dari kebaikan seperti ngobrol tentang hal-hal yang berbau khurafat, fudhul dalam pembicaraan, tertawa ria (berlebihan)
Dalam Tafsir Thabari 21: 37, setelah mengetengahkan beberapa makna lahwal hadits seperti terdahulu, Imam Thabari kemudian menyimpulkan: Yang benar dari semua pendapat itu ialah bahwa lahwal hadits dimaksudkan/ tertuju pada semua omongan yang melalaikan dari sabillillah dari apa saja yang dilarang Allah dan Rasul-Nya untuk mendengarkannya, karena Allah Ta’ala menyampaikan dengan lafadz umum, tidak mengkhususkan pada sesuatu makna, oleh karena itu ia terpakai keumumannya sehingga di dapati keterangan yang menunjukkan makna khusus seperti nyanyian atau syirk dsb.

Dalam Tafsir Bahrul-Muhith 7 hal 184 disebutkan: Imam ad Dhahhak mengartikan lahwal hadits = syirk. Mujahid dan Ibnu Juraij mengartikannya = ath thiblu yaitu alat musik/ nyanyian. Pendapat yang lain adalah sihir. Ada juga mengartikan: Caci maki yang biasa digunakan orang jahiliyah.
‘Athaa mengatakan; Apa-apa yang menyibukkan kamu dari ibadah kepada Allah dan mengingat-Nya berupa sihir, khurafat dan nyanyian.
Sahl berkata: Artinya adalah jidal dalam agama yang dipenuhi hal-hal yang bathi
Dalam Tafsir Ruuhul Ma’ani 21 hal 67, dikatakan: Lahwal hadits menurut yang diriwayatkan dari al Hasan berarti: segala yang menyibukkan kamu dari beribadat kepada Allah dan mengingat-Nya berupa samra (begadang), tertawa ria atau khurafat atau nyanyian dan yang sebangsanya..
Sedangkan idhafah (penyandaran) lafadz lahwul dengan lafadz al-hadits berarti ‘min’ yaitu ‘dari’ jadi maksudnya adalah omongan-omongan yang mungkar.
Menurut adh-Dhahhak, ia berarti syirik, ada juga pendapat lain yang mengartikan sihir, sedang Ibnu Mas’ud berpendapat artinya adalah nyanyian.

Pada Tafsir Jalalain Haamisy ash-Shaawi 3 hal. 254, diterangkan: Lahwal Hadits adalah apa-apa yang melalaikan daripada-Nya, sedangkan makna asal al-lahwu adalah segala sesuatu yang menyibukkan dari ibadat kepada Allah berupa tawa ria, obrolan-obrolan khurafat, nyanyian-nyanyian, suara-suara seruling dan lain sebagainya dari hal-hal yang bathi
Dalam Mahasinut Ta’wil 3 halaman 4792, dikatakan: (maksud ayat ini) bahwasanya mereka menukar al-Qur’an yang penuh berisi Rahmat dan Hikmah dengan apa-apa yang melalaikan berupa omongan yang tiada manfaat untuk menyesatkan pengikut mereka dari ad-Dienul Haq

Demikianlah makna Lahwal Hadits yang kami kutipkan dari kitab-kitab tafsir yang terkemuka. Dari apa yang kami sebutkan diatas, nyatalah bahwa makna Lahwal Hadits tidak semata-mata nyanyian seperti yang dinyatakan sebagian orang yang memang menjadikan ayat ini sebagai dasar untuk mengharamkan nyanyian/ musik. Meskipun kami juga tidak membantah bahwa di antara maknanya adalah nyanyian. Dengan ini pula dapat kita simpulkan bahwa tidak benar kalau mufassir sudah sepakat mengartikannya nyanyian, buktinya mereka sendiri berbeda pendapat, bahkan Ibnu Abbas tidak mengkhususkan dengan makna nyanyian (lihat kembali Tanwiirul Miqyas 254).

Kesimpulan
Lahwal Hadits mempunyai beberapa arti, diantaranya adalah nyanyian.
Yang lebih tepat lafadz tersebut diartikan dengan segala sesuatu yang dapat melalaikan dari ibadat kepada-Nya, bisa berupa obrolan-obrolan kosong, cerita-cerita khurafat termasuk nyanyian yang menyebabkan seseorang lalai dari kewajiban beribadat dan mengingat Allah, karena pada sambungan ayatnya, Allah menyebutkan ta’lilnya yaitu ‘li yadhilla an sabilillah’ (untuk menyesatkan dari jalan Allah). Jadi apa saja yang menyebabkan kesesatan termasuk dalam pengertiannya, di antaranya adalah nyanyian-nyanyian tertentu.
Dan tidak benar kalau mufassirin sudah sepakat mengartikan kalimat tersebut dengan makna nyanyian saja

Oleh Nadwah Mudzakarah,
al-Muslimun no. 264, thn. 1992

Komentar»

1. BANTAHAN ATAS HARAMNYA MUSIK DAN NYANYIAN (1) « Hamba-Mu's Site - 19 Juni 2010

[…] jelasnya, silahkan baca postingan pertama kami tentang makna lahwal hadits dalam surah luqman, klik disini) bersambung […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: