jump to navigation

Barat bertanya: Apa Islam Wahabi itu? Jhon L. Esposito 6 Juni 2010

Posted by yopie noor in Tak Berkategori.
Tags: , , , , , , ,
trackback

Oleh: John L. Esposito

Sampai baru-baru ini, sebagian orang Barat tidak pernah mendengar Islam Wahabi, tetapi kita sekarang berulang kali mendengarnya dalam kaitan dengan Osama bin Laden dan Saudi Arabia. Ada banyak interpretasi Islam, banyak kelompok teologi dan hukum. Di antaranya yang paling ultrakonservatif adalah Islam Wahabi, bentuk resmi Islam di Saudi Arabia. Gerakan Wahabi mengambil namanya dari Muhammad Ibnu Abdul Wahhab (1703 – 1791), seorang ulama hukum dan teologi Islam di Mekkah dan Madinah. Kecewa dengan penurunan moral dan kekurang-pedulian dari masyarakatnya, Abdul Wahab mencela banyak kepercayaan dan praktek yang umum sebagai syirik, dan kembali pada paganisme Arab pra Islam. Ia menolak peniruan atau mengikuti secara membabi buta(taqlid) pada ulama masa lalu. Ia memandang hukum-hukum lama dari ulama sebagai sesuatu yang dapat salah dan pada waktu itu, sebagai inovasi yang tidak diperintahkan atau bid’ah. Abdul Wahhab mengajar suatu penyegaran interpretasi islam yang kembali kepada “dasar-dasar” Islam, yaitu al-Qur’an dan Sunnah dari Nabi Muhammad saw.

Muhammad Ibnu Abdul Wahhab bergabung dengan Muhammad Ibnu Saud pemimpin suku lokal, membentuk gerakan politik agama. Ibnu Saud menggunakan paham Wahhabi untuk membenarkan jihadnya untuk menaklukkan dan menyatukan suku-suku Arab, dan mengubah mereka ke versi murni dari Islam ini. Seperti Khawarij, teologi Wahhabi melihat dunia secara hitam putih, yaitu Muslim dan non Muslim, beriman dan kafir, dunia Islam dan dunia peperangan. Mereka memandang semua Muslim yang tidak setuju dengan mereka sebagai kafir yang harus dikalahkan (yaitu di perangi dan di bunuh) atas nama Islam. Sentral dari teologi Muhammad Ibnu Abdul Wahhab adalah doktrinnya pada satu Tuhan (tauhid), monoteisme absolutnya tercermin dalam penunjukan dari kelompok Wahhabi sebagai Muwahiddin (“pengikut tauhid”) – orang yang berpegang pada Allah Yang Maha Esa dalam meniru penghancuran berhala dan suku pra Islam di tempat suci Mekkah oleh Nabi Muhammad dan pemulihannya untuk beribadah kepada Allah, Tuhan yang sesungguhnya.

Paham puritan Wahhabi tidak mensucikan makam Nabi Muhammad dan sahabatnya di Mekkah dan Madinah, juga tempat-tempat ziarah Syi’ah di Karbala (di Irak modern) yang menjadi tempat makam Husein. Penghancuran tempat yang dimuliakan ini tidak pernah dilupakan oleh Muslim Syi’ah dan berperan pada antipati sejarah antara Wahhabi di Saudi Arabia dan Islam Syi’ah di Saudi Arabia dan Iran. Berabad-abad kemudian banyak yang menunjuk pada perusakan citra agama yang diinspirasi oleh Wahhabi sebagai sumber di belakang pengrusakan sembarang oleh Taliban pada monumen Budha di Afganistan, tindakan yang dikutuk oleh pemimpin Muslim seluruh dunia.

Pada awal abad 19, Muhammad Ali dari Mesir mengalahkan Saudi, tetapi gerakan Wahhabi dan rumah-rumah Saud terbukti tetap teguh. Pada awal abad 20, Abdulaziz Ibnu Saud mendapatkan kembali Riyadh, menyatukan suku-suku Arab dan memulihkan kerajaan Saudi Arabia dan menyebarkan gerakan Wahhabi. Kerajaan Arab Saudi mencampurkan agama dan politik dalam negara Islam yang dinyatakan sendiri, menggunakan interpretasi Islam Wahhabi sebagai dasar resmi untuk negara dan masyrakat.

Secara internasional, organisasi yang di sponsori pemerintah dan individu yang kaya di Arab Saudi, telah mengekspor versi ultrakonservatif mereka dari Islam Wahhabi ke negara dan komunitas lain di dunia Muslim dan Barat. Mereka telah menawarkan bantuan pembangunan, membangun mesjid, perpustakaan dan lembaga lainnya, mendanai dan membagikan brosur keagamaan dan mengangkat imam dan sarjana agama. Puritanisme Wahhabi dan dukungan finansial telah diekspor ke Afganistan, Pakistan, Republik Asia Tengah, China, Afrika, Asia Tenggara, AS dan Eropa. Pada saat yang sama, beberapa pebisnis kaya di Saudi Arabia dan Teluk telah memberikan dukungan finansial pada kelompok ekstrim yang mengikuti suatu nama Islam fundamentalis militan (umumnya disebut sebagai Wahabi atau Salafi) dengan budaya jihadnya.

Tantangan sekarang adalah untuk membedakan antara ekspor suatu teologi ultrakonservatif di satu sisi dan ekstremisme militan di sisi lain. Kesulitan ini diperparah oleh kecenderungan pemerintah otoriter di Asia Tengah dan Cina, khususnya sejak 11 september, menggunakan label “ekstremisme Wahabi” untuk semua posisi, yang sah ataupun tidak sah, dan kemudian membenarkan penyebaran represi pada semua oposisi terhadap kebijakan dan pemerintah mereka.

Dari: Jawaban atas Gejolak Masyarakat Post-Modern, Jhon L. Esposito.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: