jump to navigation

Syair yang Dihubungkan Dengan Fatimah az Zahra. 15 Juni 2010

Posted by yopie noor in Muslimah, Syair dan Puisi.
Tags: , , , , ,
trackback

Rasulullah saw bersabda: “Banyak diantara kaum lelaki yang telah menjadi baik. Sedang diantara kaum wanita, hanyalah Asiah istri Fir’aun dan Fatimah binti Muhammad”. (HSR. Muslim).

Berikut ini beberapa baris syair yang dihubungkan dengan Fatimah az Zahra, yang diucapkan setelah Ayahnya dikebumikan, Fatimah berkata kepada Anas bin Malik, “Bagaimana kamu sampai hati menimbun pembaringan Rasulullah saw itu dengan tanah ?“. Seterusnya Fatimah menangis dan bersyair:

“Segenap ufuk langit menjadi mendung dan keruh,
Matahari yang menyinari siang menjadi redup,
Siang dan malam sama-sama gelap,
Bumi berkabung sepeninggal Nabi saw,
Bumi sering gemetar karena sedih berpisah dengan Nabi saw,
Dunia timur dan barat menangisi Beliau,
Mudlar dan Yaman juga turut menangis,
Demikian juga gunung yang menjulang tinggi,
Serta Baitullah yang mempunyai sudut-sudut dan kelambu,
Wahai Rasul penutup yang sinarnya berkat,
Semoga Tuhan yang menurunkan Qur’an memberi rahmat kepadamu”.


Pada suatu hari, Fatimah tegak di dekat kuburan Nabi saw, kemudian ia mengambil segenggam tanahnya, sambil menangis dan bersyair:

“Bolehkah orang yang telah mencium tanah kuburan Nabi saw,
Untuk tidak usah mencium tipu daya sepanjang masa,
Bencana ditimpakan kepadaku sedemikian rupa,
Andaikata bercana itu ditimpakan kepada siang,
Tentulah siang itu segera berubah menjadi malam”.


Dan pada waktu yang lain, Fatimah bersyair di atas kuburan Nabi saw:

“Sungguh, kami telah kehilangan Ayah,
Seperti bumi kehilangan hujannya,
Semenjak Ayah pergi, wahyu dan Qur’an hilang dari kami !,
Kiranya maut menjemput kami sebelum Ayah pergi,
Tentulah kami tidak merasakan sakitnya ditinggal Ayah,
Tentulah bencana tidak terjadi sepeninggal Ayah…..!”.


Seperti pada postingan yang lalu, tentang pidato Fatimah mengenai ‘Fadak’, Fatimah mengutarakan syairnya yang dua bait, bahar (timbangan syair) dan qafiyah (suku terakhir dari syair)-nya sama dengan syair ini, dengan mengulangi setengah bait dari syair ini, yaitu:

“Sungguh, sepeninggal Ayah telah terjadi…..,
Peristiwa besar yang bercampur aduk,
Andaikan Ayah melihatnya tentu bencana tidak banyak…..!
Sungguh, kami kehilangan Ayah seperti bumi kehilangan hujannya,
Kaum keluarga sepeninggal Ayah sudah berantakan…..,
Ayah…. saksikanlah….. jangan Ayah biarkan…..!”.


Kalau susastra ini dianggap terlalu tinggi untuk Fatimah, maka tidak seorangpun yang hidup pada masanya yang tidak terlalu tinggi kesusastraannya. Karena Fatimah dibesarkan dalam keadaan selalu mendengar kata-kata Ayahnya, Rasulullah saw, orang yang paling tinggi kesusastraannya. Kemudian Fatimah pindah ke rumah suaminya, hidup beberapa tahun disana, mendengarkan kata-kata suaminya, imam Ali bin Abu Thalib ra, seorang yang dinilai sebagai sastrawan, baik oleh simpatisannya ataupun oleh musuh-musuhnya. Demikian juga, Fatimah selalu mendengarkan Qur’an dibaca dengan tartil, dengan bacaan yang indah, baik dalam shalat ataupun di waktu-waktu yang lain. Sedang masyarakat di sekitarnya selalu mempercakapkan bahwa Fatimah sangat mirip dengan Ayahnya, Rasulullah saw, dalam cara berjalan, cara berbicara dan gubahan kata-katanya, malahan di antara mereka ada yang tidak berani berbicara tentang dirinya dengan mudah, tidak mau mengatakan sesuatu tentang Fatimah berdasarkan kemauannya sendiri.

referensi:
FATHIMATUZ ZAHRA WAL FATIMIYYUN
‘Abbas Mahmoud al-‘Akkad.

Syair, adalah bagian dari Syiar Islam yang telah mulai kehilangan eksistensinya. -admin.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: