jump to navigation

Bagaimana Menjadi Pasien yang Pintar 17 Juni 2010

Posted by yopie noor in Kesehatan.
Tags: , , , , , , , ,
trackback

oleh: dr. Arief


Kebanyakan pasien tidak pandai berkomunikasi dengan dokter mereka. Hal ini selain disebabkan karena pola pikir “doctor knows best” yang membuat pasien percaya saja apa yang dikatakan dokter, juga karena para pasien sering hanya diberikan sedikit informasi yang relevan mengenai penyakitnya. Ingat, seperti halnya detektif, dokter juga bertugas mencari fakta. Pada saat yang bersamaan, mereka juga memberikan kita banyak detail-detail yang tidak relevan dan topik pembicaraan yang tidak ‘nyambung’. Menjadi pasien yang cerdas bisa mengembalikan kesehatan Anda, mencegah pengeluaran yang sia-sia untuk tindakan medis, bahkan menyelamatkan jiwa Anda. Untuk menjadi pasien yang cerdas, Anda bisa merujuk pada tips-tips berikut ini.


Memilih Dokter yang Benar
Tanda pertama bahwa seseorang bisa disebut pasien yang cerdas adalah dengan memilih dokter yang benar. Dokter yang benar berarti dokter yang bersertifikat, kompeten, komunikatif, dan peduli terhadap pasien. Sekali Anda menemukan dokter seperti ini, Anda bisa mengandalkannya seumur hidup Anda. Untuk menemukannya, Anda bisa bertanya pada manajer perawat di UGD (unit gawat darurat) di rumah sakit terbaik di kota Anda. Manajer perawat di ICU (intensif care unit) juga bisa dijadikan rujukan. Selain itu, Anda bisa mendengarkan saran keluarga dan kerabat, atau mencari sendiri dengan mencoba dokter demi dokter.


Pilih Rumah Sakit Terbaik
Bagaimana kabar Anda hari ini? Baik-baik saja? Nah, ini saat yang tepat untuk mencari rumah sakit. Mungkin Anda bingung, tetapi sesungguhnya waktu terbaik untuk mencari rumah sakit adalah saat Anda tidak membutuhkannya. Kebanyakan orang tidak pernah berpikir untuk memilih sebuah rumah sakit rujukan untuk dirinya jika ia sakit. Mereka baru terpikir saat mereka sakit parah dan paramedis atau orang lain berkata, “Apakah Anda punya pilihan ke rumah sakit mana Anda ingin dibawa?”.


Jangan Berpikir Dua Kali untuk Meminta Second Opinion.
Pasien yang cerdas tidak akan merelakan hidupnya ke tangan seorang dokter saja. Penelitian di Amerika Serikat membuktikan bahwa 30% pasien yang meminta opini kedua dari dokter lain akan mendapatkan sebuah diagnosis baru yang berbeda. Tapi masalahnya, hanya ada 20% dari pasien yang meminta opini kedua, sisanya terlalu percaya pada dokter yang pertama sehingga kesalahan perawatan dan pengobatan pun sering terjadi. Saat Anda berkonsultasi pada dokter untuk meminta opini kedua, berikan saja hasil pemeriksaan Anda dari dokter yang pertama, beri tahu ia fakta-fakta dari penyakit Anda, dan biarkan dokter tersebut menanyakan pertanyaan-pertanyaan untuk Anda. Jangan katakan, “Dokter A berkata saya sakit ini, tapi saya ragu”. Hal ini bisa membuat spesialis tersebut membuat opini yang bias.


Pengobatan Alternatif.
Meskipun banyak pengobatan alternatif yang benar-benar ingin menyembuhkan pasien, ada juga yang berbahaya dan bahkan hanya mencari uang semata… Khususnya di negara kita, Indonesia. Nah, agar Anda terhindar dari bahaya, pastikan bahwa pengobatan terapi Anda tidak berbenturan dengan terapi dari dokter medis, dan bisa dijalankan bersama-sama dengan pengobatan dari dokter medis


sumber: http://www.drarief.com

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: