jump to navigation

BANTAHAN ATAS HARAMNYA MUSIK DAN NYANYIAN (1) 19 Juni 2010

Posted by yopie noor in Fiqih.
Tags: , , , , , ,
trackback

Berikut ini kami sajikan gabungan dua artikel yang berhubungan dengan musik dan nyanyian, yang mana artikel kedua dari ustadz A. A. Wiyono yang berjudul “Hakikat Nyanyian dan Suara Musik – Betulkah Diharamkan Syariat Islam?”, adalah merupakan bantahan atas artikel yang ditulis ustadz YJ dibawah judul “Hukum Nyanyian dan Musik Menurut Syariat Islam.

Ustadz YJ menulis
Bagi orang yang menelaah dan membaca kitab-kitab karya ulama salaf, maka hal ini sudah tidak asing lagi bahwa mereka sepakat tentang haramnya nyanyian dan musik. Akan tetapi lantaran keadaan sudah berubah, manusia sudah asyik dengan lagu dan musik, seakan-akan musik itu sudah merupakan kebutuhan primer dalam kehidupan sehari-hari, misalnya di rumah, sekolah, kantor, tempat sidang, di mobil, di bis dan sebagainya, lagipula banyak ustadz, kiyai dan ulama yang hobi mendengarkan musik, sehingga umat islam menganggap hal ini merupakan satu hiburan yang halal dan mengasyikkan.

Penulis terdorong untuk membahas masalah nyanyian dan musik, karena:
Pertama, Sudah banyak terjadi perubahan dalam kehidupan beragama, manusia sudah semakin jauh dari syariat Allah, mereka hidup dalam perselisihan, hingga yang haq dikatakan bathil dan yang bathil dikatakan haq, yang haram dibilang halal dan yang halal dibilang haram, yang makruf dikatakan munkar dan yang munkar dibilang makruf, yang sunnah dibilang bid’ah dan yang bid’ah dikatakan sunnah.

Rasulullah saw bersabda: (?)
artinya: Dari Abi Najih (al-Irbadh) bin Sariyah ra, ia berkata: Rasulullah saw memberi nasehat yang sungguh meresap (dalam hati kami) sehingga hati kami menjadi gemetar dan air mata kami bercucuran, lalu kami berkata: Ya, Rasulullah, rasanya seperti nasehat orang yang mau meninggalkan (kami buat selama-lamanya) maka berpesan-pesanlah kepada kami, Ia bersabda: “Aku berpesan kepada kalian agar tetap taqwa kepada Allah, mendengar dan thaat walaupun kamu diperintah (dipimpin) oleh seorang hamba dari negeri Habsyah (Etiopia). Sesungguhnya orang yang berusia panjang diantara kalian akan melihat berbagai perselisihan yang banyak, maka pegangilah sunnahku dan sunnah Khulafaurrasyidin yang memperoleh hidayah! Gigitlah kuat-kuat dengan gigi gerahammu! Waspadalah terhadap segala sesuatu yang baru sebab tiap-tiap yang baru itu bid’ah! Dan tiap-tiap bid’ah itu sesat”. (HSR. Abu Dawud 4607, Tirmidzi 2816).

Kedua, Pementasan seni olah suara dan musik mempunyai dampak negatif yang amat besar, seni olah suara modern dengan segala atributnya, jelas terlihat upaya untuk mengalihkan manusia dari dzikrullah kepada hawa nafsu (syahwat). Pementasan seni apapun (nyanyian, musik, fotografi, teater dan sebagainya) selalu diperalat untuk mengeksploitir kecabulan, kebatilan dan kerusakan aqidah.
Kata Imam adh-Dhahhak: Nyanyian itu berbahaya bagi hati dan membuat Allah murka. Kata Ibnu Mas’ud: Nyanyian itu menumbuhkan kemunafikan di dalam hati.

Ketiga, Musibah ini telah merata, yakni nyanyian dan musik setiap hari diperdengarkan oleh setiap orang mulai dari anak-anak sampai kakek-kakek dan nenek, bahkan sampai kepada ustadz, dai, kiyai terkena musibah ini, tanpa mereka merasa bahwa ini perbuatan dosa.

Ustadz A. A. Wiyono menulis
Kata Imam Fakihany yang dinukil oleh Ustadz Abdul Qadir Hassan dalam Kata Berjawab-nya: “Aku tidak dapati dalam Kitabullah dan tidak dalam Sunnah Nabi saw satupun hadits shahih yang tegas-tegas mengharamkan bunyi-bunyian”.

Ditempat yang sama Ust. Abdul Qadir membawakan hadits riwayat Bukhari dari Rubayyi’ binti Mu’awwidz bin ‘Afra:
artinya: Telah berkata Rubayyi’ binti Mu’awwidz bin ‘Afra: “Nabi saw datang lalu masuk waktu aku dikawinkan, lalu beliau duduk di tempat tidurku… Kemudian mulailah beberapa orang dari hamba-hamba perempuan kami memukul gendang dan menyanyi memuji-muji orang yang mati syahid dari antara bapak-bapak kami dalam peperangan Badar…”.

Dari hadits riwayat Bukhari ini tegas-tegas menunjukkan hakekat musik dan nyanyian itu tidaklah diharamkan. Oleh karena itu pembahasan hukum terhadap nyanyian dan musik yang ditetapkan oleh Ustadz YJ bukan ketetapan syari’ah akan tetapi hasil ijtihad beliau dengan mengambil sana sini yang akhirnya menetapkan haram. Ketetapan yang diambil Ustadz YJ mungkin dapat diklatakan fiqih bukan syari’ah, karena pada kenyataanya adalah hasil ijtihad, sekalipun berbeda dengan hadits riwayat Bukhari tadi.

Selanjutnya berijtihad dengan mengambil sana-sini itupun berpeluang untuk keliru juga dalam istimbath (mengambil kesimpulan) hukumnya. Untuk itu perlu ditampilkan alternatif pemahaman yang lain dari dalil-dalil yang ditampilkan oleh Ustadz YJ. Ini bukan berarti akan memberi peluang orang yang berbuat salah akan tetapi justru memberikan wawasan yang sedapat mungkin memadai untuk selanjutnya dapat mengambil keputusan yang mantap. Dan juga agar orang tidak merasa terus menerus dipojokkan untuk menerima hasil ijtihad seseorang.

Salaf dan Salafi
Ustadz YJ dalam pembahasannya tentang hukum nyanyian dan musik dalam Majalah al-Muslimun yang diterangkan diatas membawakan pendapat orang-orang dahulu, dan orang-orang dahulu ini biasa disebut Salaf. Selanjutnya orang yang lebih dahulu memeluk agama Islam dan membantu perjuangan Rasulullah saw adalah para sahabat, dan mereka itulah yang dapat dikatakan Salaf sebenarnya. Namun kadang-kadang terpakai juga secara arti bahasa sehingga Tabi’in dan lainnya juga dinamakan salaf.

Cara sahabat beragama dan memahami dalil-dalil yang datangnya dari Allah dan Rasul-Nya dinamakan Salafy. Salafy ini diperjuangkan terus-menerus guna mendapatkan ketentuan yang benar; yaitu dalam beragama ini berdasarkan al-Qur’an dan Hadits dan berijtihad dengan dasar keduanya. Oleh karena itu imam yang empat (imam madzhab yang empat -admin) dengan gigih memperjuangkan cara sahabat dalam beragama (salafy), dan memperingatkan dengan keras agar pengikut mereka tidak terjerumus ke dalam jurang taqlid.

Ustadz Abdul Hamid Hakim membawakan peringatan dari para imam tersebut dalam kitab as-Sullam nya:

  • Imam Abu Hanifah berkata: Apabila pendapatku ini ternyata menyalahi Kitabullah dan riwayat dari Rasulullah saw, maka kalian harus meninggalkan pendapatku itu.
  • Imam Malik berkata: Semua kita ini boleh menolak ketetapan orang lain dan boleh juga kita ditolaknya, kecuali penghuni kubur ini (kuburan Rasulullah saw).
  • Imam Syafi’i berkata: Perumpamaan orang yang mencari ilmu agama tanpa hujjah, adalah seperti pengumpul kayu bakar yang membawa seikat kayu dan dalam ikatan tersebut terdapat ular kobra yang siap mematuknya, sedangkan orang tadi tidak mengetahuinya.
  • Imam Ahmad berkata: Janganlah kamu taqlid kepadaku, kepada Malik, Tsaury dan juga kepada ‘Auza’iy, akan tetapi ambillah (hukum agama itu) dari mana mereka mengambilnya.

Dalam pada itu, untuk menjaga cara berpikir yang salafi ini kita kenal Imam Abu Hanifah dan Imam Syafi’i meletakkan dasar-dasar untuk cara beristimbath, dari dalil yaitu Ilmu Ushul Fiqh agar orang tidak terpaku pada pendapat orang/ imam ataupun sahabat dan dapat langsung mengambil hukum agama dari al-Qur’an dan Hadits Rasulullah saw dengan benar. Imam Abu Hanifah tidak inginkan hasil ijtihadnya di telan mentah-mentah, oleh karena itulah beliau menyatakan: Apabila pendapatku ini ternyata menyalahi Kitabullah dan riwayat dari Rasulullah saw, maka kalian harus meninggalkan pendapatku itu. Begitu juga Imam Syafi’i tidak inginkan orang menerima ilmu Agama itu terlepas dari al-Qur’an ataupun Hadits, oleh karena itu beliau menyatakan: Perumpamaan orang yang mencari ilmu agama tanpa hujjah adalah seperti pengumpul kayu bakar dan dalam ikatan tersebut terdapat ular kobra yang siap mematuknnya, sedangkan orang itu tidak mengetahuinya. Ini berarti mereka berdua menghidupkan Salafy bukan mendorong untuk mengambil hasil ijtihadnya orang Salaf.

Ustadz YJ menulis
Tulisan yang singkat ini memuat beberapa dalil tentang haramnya musik, dari al-Qur’an dan as-Sunnah. Selanjutnya penulis ungkapkan pendapat para Ulama, dan dampak negatif dari nyanyian itu sendiri.

DALIL-DALIL AL-QUR’AN

“Dan diantara manusia ada yang membeli perkataan yang tidak berguna (lahwal hadits) untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa ilmu pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh adzab yang menghinakan. Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah dia belum mendengarnya, seakan-akan ada sumbat di kedua telinganya; maka beri kabar gembiralah dia dengan adzab yang pedih”. (QS. Luqman: 6-7).

Kalimat lahwal hadits ditafsirkan dengan Nyanyian oleh para sahabat dan mufassirin, sebagaimana berikut ini:

  1. Seorang shahabat yang terkenal, Abdullah bin Mas’ud menafsirkan ayat ini dengan “nyanyian”. Abus Shahba’ al-Bakry, dia mendengar Ibnu Mas’ud ditanya tentang ayat ini, kata Ibnu Mas’ud: Lahwal hadits ialah nyanyian. Demi Dzat yang tiada tuhan selain Dia. Ia mengulanginya sampai tiga kali.
  2. Ibnu Abbas juga menafsirkan Lahwal hadits dengan “nyanyian” dan yang serupa dengannya.
  3. Mujahid bin Jabr, seorang Imam ahli tafsir ternama dari kalangan tabi’in, wafat th. 103 H, dalam menafsirkan ayat ini, Mujahid mengatakan Lahwal hadits ialah “nyanyian”. Dalam riwayat lain ia mengatakan: “membeli/ menyewa biduanita dengan biaya mahal, atau mendengarkan nyanyian atau lainnya dari kata-kata yang bathil”.
  4. Ikrimah, seorang murid Ibnu Abbas juga menafsirkannya dengan nyanyian.
  5. Ibnu Jarir ath-Thabari sendiri setelah menyebutkan beberapa qaul ulama salaf mengatakan, yang dimaksud dengan Lahwal hadits ialah semua omongan yang melalaikan dari jalan Allah dan dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya. Selanjutnya ia mengatakan “termasuk nyanyian dan perkataan”.
  6. Imam Syaukani berkata dalam tafsirnya, bahwa lahwal hadits didalam ayat itu ialah semua yang melalaikan orang dari kebaikan, seperti nyanyian, permainan, cerita-cerita bohong dan setiap pekerjaan yang mungkar. Selanjutnya Syaukani berkata: Imam al-Qurthubi mengatakan: Sesungguhnya tafsir yang terbaik (yang tepat) yaitu tafsir lahwal hadits bermakna nyanyian, dan ini merupakan tafsir shahabat dan tabi’in.
  7. Ibnu Qayyim al-Jauziyah berkata: Telah berkata Hakim Abu Abdillah dalam kitab tafsir dari kitab al-Mustadrak: Hendaknya orang yang menuntut ilmu mengetahui bahwa tafsir shahabat yang menyaksikan turunnya wahyu, menurut Bukhari dan Muslim merupakan hadits Musnad, di tempat lain ia berkata: hadits (tafsir shahabat) disisi kami mempunyai hukum Marfu’.
  8. Al-Hafidz Imamuddin Abul Fida’ Ismail bin Katsir al-Quraisyiy, yang terkenal dengan sebutan Ibnu Katsir ia berkata dalam tafsirnya: Ketika Allah menyebutkan keadaan orang-orang yang bahagia, yaitu orang-orang yang mendapat petunjuk dengan Kitabullah dan mengambil manfaat dengan mendengarkannya dalam ayat:
    Allah telah menurunkan sebaik-baik perkataan, (yaitu) kitab yang serupa (keindahan ayat-ayatnya) lagi di dua-duakan (diulang-ulang bacaannya); oleh karenanya bergetar kulit orang-orang yang takut kepada Rabbnya, kemudian menjadi lembut kulit dan hati mereka untuk mengingat Allah. (QS. az-Zumar 39: 2-3).
    Dan Allah menyebutkan pula keadaan orang-orang yang celaka yang tidak bisa mengambil manfaat dengan mendengarkan al-Qur’an. Sebaliknya malah mereka suka menghibur diri dengan mendengarkan seruling, nyanyian dan musik. Allah berfirman:
    “Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah dia belum mendengarnya, seakan-akan sumbat di kedua telinganya”. (QS 31: 7).
    Yakni kelompok ini yang selalu menghibur diri degan permainan, nyanyian dan musik, jika dibicarakan ayat-ayat al-Qur’an mereka berpaling seakan-akan mereka tuli tidak mendengarnya, karena mereka merasa sakit jika mendengar ayat-ayat itu dibaca. Maka beri kabar gembiralah dengan adzab yang pedih.
  9. Kata al-Wahidi: Ayat itu menurut tafsir ini (yakni tafsir shahabat) menunjukkan tentang Haramnya nyanyian

(note: pada tiap-tiap point a, b, c diatas, ada disebutkan sumbernya dengan lengkap -admin)

Bantahan Ustadz A. A. Wiyono
Maksudnya:
(ayat tersebut diatas -admin) Menerangkan bahwa adzab yang menghinakan itu akan ditimpakan pada mereka yang menukar ayat-ayat al-Qur’an dengan pembicaraan yang tiada berguna untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah, dan menjadikan jalan Allah sasaran ejekan.

Keterangan:
Ayat ini tidak menerangkan haramnya nyanyian, sekalipun kata-kata yang artinya pembicaraan yang tiada berguna (lahwal hadits) itu ditafsirkan dengan nyanyian. Karena kesalahannya itu adalah menukarkan ayat-ayat al-Qur’an dan berusaha menyesatkan manusia dari jalan Allah. Kalimah “liyudhilla an sabilillah”, huruf “lam” pada kalimah “liyudhilla” adalah ta’lil, sehingga pengertiannya adalah menukarkannya untuk menyesatkan orang lain. Apabila orang sudah berusaha menyesatkan orang dari jalan Allah, maka dia sendiri telah sesat. Itulah sehingga dia diancam dengan adzab yang menghinakan. Jadi ayat tersebut sama sekali tidak mengharamkan hakekat nyanyian.

Sebetulnya penafsiran Lahwal Hadits apabila kita kumpulkan dari kitab-kitab tafsir, seperti Tafsir Qurthubi, Baghawi, Kasysyaaf, al-Bahrul Muhith, Tanwiirul Miqbas, Fathul Qadiir, Jalalain dengan hasyiyahnya dan lain-lain adalah menunjukkan banyak arti, antara lain: cerita-cerita kosong, omong kosong yang membuat gelak tawa. Akan tetapi hampir semua tafsir mengartikan “Lahwal Hadits” dengan arti “pembicaraan yang tiada berguna” secara umum.

(untuk lebih jelasnya, silahkan baca postingan pertama kami tentang makna lahwal hadits dalam surah luqman, klik disini)

bersambung insyaallah

Komentar»

1. Abu dzakwan - 15 November 2010

Ust wiyono bertaqwalah kpd Allah dlm tafsir tsb telah jelas keterangan para sahabat Nabi.bgmna mgkn antum msh mengatakan hal itu tdk valid?apakah antum bkan golongan aqlaniyyun?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: