jump to navigation

BANTAHAN ATAS HARAMNYA MUSIK DAN NYANYIAN (2) 22 Juni 2010

Posted by yopie noor in Fiqih.
Tags: , , , , , ,
trackback

Ustadz YJ menulis
Artinya: Maka apakah kamu merasa heran terhadap pemberitaan ini, dan kamu menertawakan dan tidak menangis sedang kamu lengah (bernyanyi) ? Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah Dia. (QS. an-Najm: 59-62).

Kalimat سامدون‎ berasal dari اشمود ‏‎ yang berarti “nyanyian dan permainan”. Ibnu Abbas berkata: ialah nyanyian. Yakni mereka jika mendengar al-Qur’an, menyanyi dan bermain-main. Kata “as-Samud” berasal dari Yaman (riwayat Ibnu Abid Dunya, Baihaqi dalam sunannya juz 10 hal 223 dan Ibnul Jauzi dalam Talbiisu Iblis hal 231-232 dengan sanad yang shahih).

Bantahan Ustadz A. A. Wiyono
Maksudnya:
Menerangkan untuk menghadapi situasi dimana al-Qur’an diremehkan, disambut dengan tertawa bersenda gurau, tidak merasa takut padahal didalamnya banyak ayat yang mengandung ancaman dan tidak diperhatikannya, adalah menghadapinya dengan tetap sujud tunduk kepada Allah dan menyembah-Nya.

Keterangan:
Ayat ini tidak menerangkan haramnya hakekat nyanyian, sekalipun lafadz “samiiduna” di artikan dengan bernyanyi-nyanyi dan bermain, karena tercelanya ini disebabkan meremehkan al-Qur’an. Bukan tertawa, menyanyi dan bermain-main yang menjadi permasalahan. Kalau dikatakan tercelanya pada nyanyian, maka tertawa dan bermain pun ikut diharamkan juga.

Ustadz YJ menulis
Artinya: Dan hasunglah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu. Dan kerahkanlah pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh syaitan kepada mereka melainkan tipuan belaka. (QS. 17: 64).

  • Mujahid berkata, yang dimaksud dengan صوتك ‏‎ suara/ ajakanmu ialah nyanyian dan suara seruling. (Talbiisu Iblis hal 232 dan Tafsir Ibnu Katsir 3 hal 49).
  • Ibnu Jarir dalam menafsirkan kalimat بصوتك ‏‎ dengan suaramu, setelah menceritakan qaul para ulama menafsirkan “bi sautika” dengan makna “bermain-main” dan nyanyian, beliau berkata: Allah swt berfirman kepada iblis, “gerakkanlah dari bani Adam orang-orang yang kamu kuasai dengan suaramu”, Allah tidak menentukan satu suara dari yang lain. Semua suara yang mengajak kepada nyanyian dan bermain-main, yang bukan mengajak kepada mentaati Allah, termasuk dalam suara syaitan.

Bantahan Ustadz A. A. Wiyono
Maksudnya:
Ayat ini berkaitan dengan awal sebelumnya yang membicarakan terusirnya iblis dan ia diberi tempo untuk melampiaskan kedengkiannya kepada anak cucu Adam dan akan memperdayakan mereka hingga akan terjerumus ke dalam perangkapnya kecuali mereka yang ikhlas. Lalu ayat ini menjelaskan bahwa perangkap iblis itu disalurkan dengan bisikan-bisikan suaranya yang mengajak kepada kemaksiatan, laskar yang berkendaraan dan yang berjalan kaki, harta dan juga anak. Iblis akan menyusup ke dalamnya guna memalingkan manusia kepada kedurhakaan dan kemaksiatan. Para ahli tafsir menekankan bahwa ciri-ciri iblisisme adalah kemaksiatan. Suara iblis adalah suara kemaksiatan, pasukan iblis adalah pasukan kemaksiatan, harta yang disekutui iblis adalah harta kemaksiatan, anak yang disekutui iblis adalah anak kemaksiatan. Jadi, semua yang tersebut itu kalau sudah bersifat maksiat dapat dikatakan syaitan.

Keterangan:
Ayat ini tidak mengharamkan nyanyian dan musik sekalipun dipaksakan lafadz “shautika” diartikan nyanyian, karena harus diartikan nyanyian maksiat, seperti halnya pasukan tidak bisa dikatakan pasukan iblis yang tidak menyebarkan kemaksiatan. Menurut keterangan bahwa suara syaitan adalah bisikan, sebagaimana firman Allah:
Artinya: Dan sesungguhnya syaitan itu benar-benar membisikkan kepada kekasih-kekasih mereka agar mendekati kamu, dan jika kamu mentaati mereka, maka kamu menjadi musyrik. (QS. al-An’am: 121).

Oleh karena itu suara syaitan dimaksudkan nyanyian, tidak tepat. Untuk itu harus diartikan secara umum saja, yaitu bisikan-bisikan yang mengajak kepada kemaksiatan dan kedurhakaan kepada Allah,

Dari pembahasan ayat-ayat yang ditampilkan, ternyata tidak satupun yang mengharamkan hakekat nyanyian maupun musik. Dan apabila difaham mengharamkannya, adalah hanya pendapat yang biasanya kondisi, situasi, maksud dan tujuan berperan mempengaruhinya. Oleh karena itu diperlukan memahami dalil (al-Qur’an dan al-Hadits) dengan apa adanya. Al-Imam Syamsuddin Ibnul Qayyim al-Dimasqy memperingatkan: “Seyogyanya hadits dari Rasulullah saw itu difahami apa yang dimaksudkan tanpa berlebih-lebihan dan juga jangan dikurangi”. Begitulah peringatan beliau dalam Kitabur Ruh. Peringatan ini lebih berlaku lagi pada al-Qur’an.

Ustadz YJ menulis

DALIL DALIL DARI AS-SUNNAH

Artinya: Dari Abi Malik al-Asy’ariy ia berkata: Telah bersabda Rasulullah saw: “Sungguh akan ada orang-orang dari umatku yang minum khamr, mereka namakan dengan nama yang lain, kepala mereka (bergoyang-goyang) dilalaikan dengan musik dan nyanyian, maka Allah akan tenggelamkan mereka itu ke dalam bumi dan Allah akan mengubah yang lainnya menjadi kera dan babi, (HR. Ibnu Majah 4020 dan ini lafadznya, Baihaqi 8 : 295 dan 10: 221 dan Ibnu Asakir, lihat: shahih Ibnu Majah no. 4247).

(Ustadz YJ tidak menjelaskan apa-apa tentang hadits ini -admin).

Penjelasan Ustadz A. A. Wiyono
Maksudnya menerangkan adanya bencana yang akan menimpa pada umat Muhammad saw, dikarenakan minum khamr dan lalai hidup disebabkan nyanyian dan musik. Hadits ini tidak bisa dipakai untuk mengharamkan musik, karena bencana itu disebakan oleh kelalaian dan pelanggaran, seperti minum khamr. Jadi orang harus berhati-hati terhadap sesuatu yang bisa melalaikan hidup, antara lain nyanyian dan musik. Dan dari segi sanad, perlu dipertanyakan adanya rawi yang majhul yaitu Malik bin Abi Maryam . Disamping majhul (tidak dikenal), riwayatnya adalah wuhdan karena tidak ada yang meriwayatkan darinya (Malik bin Abi Maryam) kecuali Hatim bin Harits. Imam adz-Dzahabi dalam Mizanul I’tidal menerangkan, dia itu rawi yang tidak dikenal. Jadi hadits tersebut dha’if karena ada rawi yang majhul dan riwayatnya wuhdan.

Ustadz YJ menulis
Artinya: Telah bersabda Rasulullah saw: “Sungguh akan ada dari umatku, kaum yang menghalalkan zina, sutra, khamr dan alat-alat musik. Dan akan tinggal beberapa kaum disisi gunung, berkembang biak hewan ternak mereka yang (selalu) digembalakan oleh penggembala. Datang orang yang butuh kepada mereka, lalu mereka berkata: kembalilah kepada kami besok. Kemudian Allah membinasakan mereka (di waktu malam) dan meratakan gunung serta mengubah rupa yang lainnya menjadi kera dan babi, sampai hari kiamat”, (HSR. Bukhari 6: 243).

Derajat Hadits
Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitabul asyribah 6 hal. 243, telah berkata Hisyam bin Ammar, telah menceritakan kepada kami Shadaqah bin Khalid, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman bin Yazid bin Jabir, telah menceritakan kepada kami Athiyyah bin Qais al-Kilaabiy, telah menceritakan kepadaku Abdur Rahman bin Ghammhn al-Asy’ariy, demi Allah ia tidak mendustakan aku, ia mendengar Nabi saw bersabda:….. (lafadz hadits di atas).

Hadits ini di maushulkan oleh Thabrany (1/167/1), Baihaqi 10: 221, Ibnu Asaakir (19/79/2) dan selain mereka dari beberapa jalan dari Hisyam bin Ammar (dengan sanadoya).

Hadits ini ada jalan lain dari Abdur Rahman bin Yazid, Abu Dawud berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdul Wahhab bin Najdah, telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Bakar dari Abdur Rahman bin Yazid bin Jabir (dengan sanadnya).

Diriwayatkan pula oleh Ibnu Assakir dari jalan lain dari Bisyr (dengan sanadnya).

Hadits ini sanadnya shahih dan mutabi’ yang kuat bagi Hisyam bin Ammar dan Shadaqah bin Khalid.

Ibnu Hajar al-Asqalani menshahihkan hadits ini, Ibnu Shalah, dan lainnya (Fathul Bari 10: 51-52). Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani menshahihkan hadits ini dalam silsilah hadits shahih.

Penjelahan Ustadz A. A. Wiyono
Maksudnya menerangkan ada dua kaum yang termasuk umat Muhammad saw yang akan ditimpa bencana dikarenakan menganggap halal zina, sutra, khamr dan alat-alat musik. Sedang yang lainnya karena bakhil. Hadits ini tidak tegas sebagai dalil untuk mengharamkan alat-alat musik. Sebab menganggap halal atau menghalalkan itu bisa benar dan bisa tidak. Dalam hadits ini yang anggapan mereka tidak benar adalah zina dan khamr, karena agama jelas mengharamkannya. Sedangkan sutra perlu pembicaraan, begitu juga musik. Yang jelas mereka itu telah melanggar batas, oleh karena itu diadzab. Lalu lafadz yang artinya “menganggap halal/ menghalalkan” itu berarti apakah asalnya telah diharamkan? Itu belum tentu, karena banyak dalam al-Qur’an dan al-Hadits dalil yang menghalalkan yang tadinya tidak haram. Seperti ayat 187 surah al-Baqarah yang artinya: “Dihalalkan bagimu di malam puasa, mendekati isteri-isterimu”. Kapan agama mengharamkannya? Juga surah al-Baqarah: 278 yang artinya: “Dan Allah halalkan jual beli dan Ia haramkan riba”. Kapan Allah pernah haramkan jual beli dan juga kapan Allah pernah halalkan riba?

Dan juga dari segi sanad, hadits ini perlu pembicaraan, sebab mu’allaq. Mu’allaq secara adil ditolak, adapun Imam Baihaqi mempunyai sanad sambung, perlu juga di bicarakan rawi Abu Bakr bin Abdillah. Ini masih ditambah lagi keraguan tabi’in dalam mengkhabarkannya, yaitu dia katakan telah menceritakan kepadaku Abu ‘Amir atau Abu Malik al-Asy’ari, sedangkan dua orang tersebut berbeda (bukan seorang dengan nama dua). Jadi sanadnya shah sampai pada tabi’ien dan kebawah sampai pada Hisyam bin ‘Amir. Adanya keraguan itu dari dua segi, yaitu: tidak tegasnya matan untuk mengharamkan musik dan juga sanadnya masih dibicarakan, maka tidak dapat menentukan mengharamkan. Menjatuhkan hukum yang berat, seperti haram itu, harus ada dalil yang shahih dan jelas.

Ustadz YJ menulis
Artinya: Telah bersabda Rasulullah saw: “Akan terjadi di akhir zaman, tenggelam kedalam bumi, lemparan batu, dan perubahan bentuk, jika telah tampak alat-alat musik dan penyanyi wanita serta di halalkannya khamr”. (HR. Thabrani dari Sahl bin Sa’d dengan sanad yang shahih dan Tirmidzi dari Imran bin Hushain/ lihat shahih jami’ us shaghir no 3559).

(Ustadz YJ tidak menjelaskan maksud hadits ini -admin).

Penjelasan Ustadz A. A. Wiyono
Maksudnya menerangkan tanda-tanda akhir zaman, yaitu jika telah meledak banyaknya alat musik dan penyanyi wanita serta dianggap bahwa khamr itu halal, maka terjadilah bencana. Dalil ini tidak jelas mengharamkan musik dan nyanyian. Hadits ini nampaknya bisa difaham, mereka telah lalai dikarenakan ledakan nyanyian dan penyanyi wanita di mana-mana disertai dengan pesta pora minum khamr. Dengan demikian datanglah adzab tadi, karena pastilah akan timbul pula berbagai kemaksiatan. Selanjutnya sanad hadits ini perlu diperbincangkan, karena ada rawi yang bernama Abdullah bin Abi Zinaad. Ia adalah rawi yang lemah, oleh karena itu dalam kitab Majma’uz Zawaaid 8/10, hadits ini dinyatakan dha’if. Begitulah, walaupun dalam catatan Ustadz YJ dinyatakan shahih. Karena tidak tegasnya matan mengharamkan nyanyian dan musik, disamping itu dha’if, maka tidak bisa di terima untuk mengharamkan nyanyian dan musik.

Selanjutnya Ustadz YJ menulis
Artinya: Sesungguhnya pada ummatku akan ditimpa (bencana) tenggelam kedalam bumi, perubahan bentuk dan lemparan batu. Mereka bertanya: Ya, Rasulullah! Walaupun mereka bersaksi tiada tuhan melainkan Allah? “Ya, jika sudah tampak alat-alat musik (dihalalkannya) khamr dan (laki-laki) pakai sutra”.
Hadits ini diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah 15: 164 dan Abid Dunya dari jalan Amr bin Murrah, dari Abdur Rahman bin Saabith seorang tabi’i, berarti hadits ini mursal, hadits ini berderajat Hasan dengan beberapa syahidnya, dan ini ada syahidnya dari hadits Abi Hurairah diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunya (lihat Ahaadits Dzammul ghina’ wal ma’aazif fil mizaan hal 35).

Penjelasan Ustadz A. A. Wiyono
Maksudnya menerangkan bahwa ummat Muhammad saw, yang beragama Islam (ummat Muhammad saw ada dua, yaitu: ummat Dakwah, belum masuk Islam dan didakwahi agar jadi Muslim. Dan yang lainnya adalah ummat Ijabah, yaitu yang menyambut dakwah Islam dan jadi Muslim) akan ditimpa bencana kalau sudah terang-terangan adanya musik, berbagai khamr, dan pakaian sutra. Ini tidak tegas, seperti riwayat lainnya. Disamping itu sanadnya sampai kepada seorang tabi’in yaitu Abdurrahman bin Sabith ini namanya mursal. Hadits mursal dikatakan dari Rasulullah saw, itu berarti dha’if, sedang yang dianggap penguat dari Abu Hurairah ternyata dalam sanadnya ada rawi yang tidak disebut namanya, hanya dikatakan “rajul” (orang laki-laki), ini namanya Mubham. Hadits mubham lebih parah dari majhul. Jadi tidak salah orang mengatakan hadits ini dha’if.

Ustadz YJ menulis
Artinya: Dari Nafi’ maula Ibnu Umar, ia berkata: Ibnu Umar pernah mendengar seruling seorang penggembala, lalu beliau menyumbat kedua telinganya dengan jari tangannya, kemudian ia pindah ke jalan lain, sambil berkata: Wahai Nafi’, apakah engkau masih mendengar? Aku jawab: Ya (masih mendengar), lalu beliau terus berjalan, sampai aku berkata: Sudah tidak terdengar lagi (suara itu). Barulah ia melepaskan kedua tangannya (dari telinganya) dan ia kembali ke jalan itu. Lalu beliau berkata: Beginilah aku melihat Rasulullah saw ketika ia mendengar suara seruling penggembala, beliau melakukan seperti ini. (HSR Ahmad 2: 38, Abu Dawud no 4924, Ibnu Hibban dalam kitabnya Muwaridul zham’an no 2013, Imam al-Ajurry dalam kitabnya Tahrimun Nard was Syatrani wal Malahiy no 64, Abu Nu’aim dalam kitabnya Hilyatul Auliya’ 6: 129, Baihaqi fis Sunan 10: 222 dan Ibnul Jauzy dalam Talbisu Iblis hal 232).

Derajat hadits ini shahih, lihat: Shahih Abu Dawud no 4116, Musnad Ahmad tahqiq Syaikh Ahmad Muhammad Syakir no 4535 dan 4965, Ahadits fii dzammil ghinaa’ wal ma’aazif fil mizaan hal 47. Hadits ini ada mulabi’nya dengan sanad yang shahih dalam shahih Abu Dawud 4117, al-Ajurry no 65 dan Baihaqi 10: 222. Lihat pula shahih Abu Dawud no 4118.

Penjelasan Ustadz A. A. Wiyono
Maksudnya sudah jelas, dan sanadnya baik. Yang tidak jelas dan tidak baik itu untuk mengharamkan musik. Kalau bunyi seruling itu haram, tentunya Abdullah bin Umar bin Khattab langsung saja peringatkan pada Na’fi, orang yang sangat disayanginya, tidak usah berlama-lama bertanya “kamu masih dengar atau tidak” sampai berjalan jauh. Bagitukah sifat sahabat, kalau memang musik itu haram, ia akan suruh Na’fi segera menutup telinga dan mengatakannya bahwa seruling itu diharamkan oleh Rasulullah saw. Jadi hadits ini sangat jauh untuk mengharamkan musik. Kalau dikatakan Ibnu Umar tidak suka, sebagaimana Rasulullah saw, ini lebih mengena.

Akhirnya Ustadz YJ menulis
Artinya: Telah bersabda Rasulullah saw: “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan atasku khamr, judi dan al-kubah (musik)”, beliau saw berkata: “Dan tiap-tiap yang memabukkan adalah haram”.

Sufyan at-Tsaury bertanya kepada Ali bin Badzimah tentang makna al-kubah? Ia jawab: Yang dimaksud ialah ath-Thabl (HSR. Abu Dawud no 3696 dari Ibnu Abbas).

Hadits ini derajatnya shahih, dan hadits ini diriwayatkan juga oleh Ahmad 1/274. Lihat Shahih Abu Dawud no 3143 dan silsilah Ahadits as-Shahihah juz 4 hal 422-423 no. 1806.

Dalam kamus Lisanul Arab, oleh Ibnu Manzhur, tartib Yusuf Khayyath juz 2 hal. 570, yang dimaksud Thabl ialah: Gendang, Drumband, Beduk dan lain-lain dengan berbagai macam bentuknya.

Dalam hadits tersebut Allah mengharamkan kepada Nabi Muhammad saw dan ummatnya khamr, judi dan alat-alat musik: Drumband, Gendang, Beduk dan lain-lainnya.

Aisyah ra pernah melewati satu rumah yang di dalamnya ada orang yang bernyanyi dan bergoyang-goyang kepalanya dengan merdunya dan ia seorang yang banyak syair, lalu Aisyah berkata: Cis, ini syaitan, keluarkanlah dia (dari rumah itu), keluarkanlah dia, keluarkanlah dia.
Atsar ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitabnya al-Adabul Mufrad no. 1247 dan Baihaqi 10:223-224, dan sanadnya shahih,

Aisyah menganggap orang yang bernyanyi itu adalah syaitan dan harus diusir dari rumah.

Kata Amirul Mukminin Utsman bin Affan: Sungguh aku telah bersembunyi dari Rabb-ku selama sepuluh tahun. Sesungguhnya aku adalah orang keempat dari empat orang yang masuk Islam. Dan aku tidak pernah bernyanyi dan berangan-angan….. Diriwayatkan dari Yakub bin Sufyan (2/488-489), Thabrany dalam Mu’jam al-Kabir no. 124 dan Ibnu Asakir. Derajat atsar ini Hasan.

Penjelasan Ustadz A. A. Wiyono
Haditsnya shahih karena semua rawi dalam hadist Tsiqah dan bersambung dari awal sanad sampai pada Nabi saw. Oleh karena itu wajib dipakai. Maksudnya Nabi saw memberitahu bahwa khamr, judi dan al-Kubah haram atas beliau. Kalau haram atas Nabi saw bagaimana atas ummat beliau? Atas ummat beliau saw juga haram kecuali ada petunjuk yang mengkhususkan hanya untuk Nabi saw, mengingat Nabi saw adalah uswatun hasanah dan dalil-dalil lain yang mendukungnya.

Yang perlu dibicarakan ulang adalah pengertian al-Kubah yang oleh ustadz YJ diartikan musik, berdasarkan jawaban Ali bin Badzimah (yang hidup pada masa setelah tabi’in) ketika ditanya oleh Sufyan ats-Tsaury; yaitu beliau menjawabnya ath-Thablu (bedug). Sofyan bertanya minta pendapat Ali bin Badzimah karena pengertian al-Kubah itu ada banyak. Menurut Muhammad bin Katsir dalam Tajul ‘Arus, pengertiannya an-Nardu (dadu) 1/65, begitu juga menurut Ibnu Atsir dalam an-Nihayah 4/207. Arti yang lainnya: catur, gendang panjang yang tengahnya ramping dan kecapi.

Syaikh Nasruddin Albani dalam Silsilatul Ahaditsis Shahihah 4/422 menyatakan (artinya): al-Kubah (artinya) telah berkata Ibnu Atsir: Yaitu dadu dan pendapat yang lain bedug dan kecapi. Dan dalam Ma’jamul Wasith, al-Kubah itu adalah alat musik seperti bedug, dan (arti yang lainnya) dadu atau catur.

Begitulah menurut syaikh Albani, dan kemudian beliau menjatuhkan pendapatnya: “Yang paling kuat artinya adalah bedug, karena Ali bin Badzimah menetapkannya arti tersebut, dia adalah termasuk dari rawi hadits tersebut, sedangkan rawi itu lebih tahu terhadap apa yang diriwayatkan”.

Sebetulnya masih tersisa arti al-Kubah yang belum di nukil (disalin) oleh syaikh Albani yaitu dengan arti al-kuub (suatu wadah terbuat dari kaca atau lainnya, atasnya bulat tanpa tali, dan termasuk bejana untuk minum). Tidak disalin oleh syaikh Albani mungkin karena itu bahasa asal yang terpakai di zaman Jahiliyah. Sebetulnya apabila dimuat agak lengkap hadits tersebut adalah berhubungan dengan jawaban Nabi saw kepada delegasi Abdul Qais yang meminta penjelasan bolehnya minum air buah itu yang ditempatkan dari bejana apa? Lalu Nabi saw menjawabnya:

Artinya: Maka Nabi saw menjawabnya: “Janganlah kalian minum (air buah yang dipimpan) dalam bejana dubba’, mazafat, naqier dan khantam, akan tetapi minumlah (air buah yang di simpan) dalam bejana kulit”. Kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah telah haramkan atasku, atau mengharamkannya khamr, judi, (air buah yang di simpan) dalam bejana itu. Dan setiap yang memabukkan itu adalah haram”.

Lafadz hadits ini adalah riwayat Ahmad. Ahmad mengeluarkannya dengan no. 2476, dan dalam Asyribah no. 193-194, dan Abu Dawud dengan no. 3696 dan Baihaqi 10/22.

Jadi al-Kubah dikembalikan kepada pengertian semula yang di faham pada zaman Jahiliyah dan awal Islam. Dan dengan arti tersebut penjelasan Nabi saw merupakan penekanan maksud hukum haram itu tidak hanya pada mereka tetapi juga pada Nabi saw.

Dan kata-kata setiap yang memabukkan itu haram, karena air buah yang di simpan dalam bejana-bejana tersebut cepat sekali memabukkan, akan tetapi apabila disimpan dalam bejana kulit tidak cepat berubah menjadi memabukkan. Sedangkan pendapat Ibnu Badzimah merupakan pilihan dari arti-arti yang telah berkembang di masa penyampaian hadits (Ashrur Riwayat).

Selanjutnya apabila dilihat dari Tasyri’ul Ahkamil Islami, maka keterangan Nabi saw tersebut akhirnya ada penjelasan mendatang, termasuk yang diterangkan oleh Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim:
Kemudian dihapus dengan haditsnya Buraidah ra, sesungguhnya Nabi saw bersabda: “Aku pernah melarang kamu tentang menyimpan air buah kecuali dalam bejana kulit, maka sekarang simpanlah air buah itu (dimana kamu suka) dan janganlah kalian minum (sesuatu) yang memabukkan”. (Riwayat Muslim, Syarah Nawawi 1/185).

Kesimpulan Penunjukan Dalil
Semua dalil-dalil yang ditampilkan untuk menunjukkan bahwa nyanyian dan musik itu haram tidak tepat. Tidak tepatnya karena dalil yang shah dari al-Qur’an dan al-Hadits tidak menunjukkan haramnya hakekat nyanyian dan musik, sedang lainnya tidak jelas dan ada kelemahannya. Hal ini kalaulah dipaksakan untuk menunjukkan hukumnya musik dan nyanyian, adalah setinggi-tingginya makruh dalam pengertian Fiqh Islam.

HAKEKAT NYANYIAN DAN HUKUMNYA
Oleh: Ustadz A. A. Wiyono

Menyanyi dalam pengertian Arab menurut al-Mu’jamul Wasith 1/664 adalah,
Artinya: Melagukan dan mengiramakan perkataan yang beraturan atau lainnya

Maksudnya melagukan dan mengiramakan perkataan yang beraturan tinggi rendahnya, panjang pendeknya, lama dan segeranya menyambung perkataan-perkataan tersebut sesuai dengan nada yang dikehendaki, atau seperti itu tetapi bukan perkataan. Jadi memang bisa dimasukkan/ digolongkan dalam pengertian bermain-main, yang biasanya sebagai hiburan pelepas lelah, kesal, tidak enak pikiran dan sepertinya.

Dalam kitab Soal Jawab A. Hassan hal. 1061 dibawakan riwayat:
Dari Aisyah, bahwasanya ia telah serahkan (kawinkan) seorang wanita kepada seorang laki-laki dari bangsa Anshar. Maka bertanya Nabi saw: “Tidakkah ada pada kamu permainan, karena sesungguhnya bangsa Anshar suka kepada permainan”. (HSR. Bukhari).

Oleh karena itu saya lebih cenderung memasukkan pembahasan nyanyian ini pada qaidah:
Pencegahan terhadap perkara mubah yang mendorong ditinggalkannya kewajiban. (al-Qawaaidul Khisaan 208).

Jadi hakekat nyanyian itu mubah. Kalau dapat membangkitkan semangat untuk berjuang, mengharukan, menyadarkan seseorang, itu isinya baik. Akan tetapi kalau isinya mengajarkan syirik, mendorong berbuat maksiat, maka isinya dikatakan tidak baik. Hakekat nyanyiannya tetap mubah, begitu juga diadakannya di waktu senggang seperti acara perkawinan dan Iedul Fitri, bukan berarti di waktu senggang lainnya itu dilarang. Tidak benar berpikir hukum dengan Mafhum Mukhalafah (ambil pemahaman kebalikannya dari apa yang tertulis), karena dengan begitu berarti mengamalkan sesuatu yang tidak ditunjuk oleh dalil itu sendiri.

Dalam hal nyanyian dan musik ini ada nasehat sbb: “Oleh karena itu kalau hendak mengadakan nyanyian dan sebagainya di tempat perkawinan atau lain-lainnya, hendaklah kita pilih yang bisa mendatangkan kebaikan dan kesadaran. Selain daripada itu waktu bermain, perlu juga kita menjaga peraturan-peraturan Agama kita. Di antaranya, percampuran antara laki-laki dengan wanita dan minum-minuman yang haram”. (Soal Jawab A. Hassan hal. 1062-1063).

Nasehat ini menurut saya baik, bijaksana dan sederhana serta memisah-misahkan masalah dan kedudukannya sesuai dengan kedudukan hukum masing-masing. Bukan main hantam kromo saja, seperti cerita monyet disuruh menjaga tuannya tidur, karena ada lalat lalu dihantamnya lalat tersebut yang sedang hinggap di kening tuannya dengan batu karena ingin membela dan mengusir lalat yang menganggu.

Dalil-dalil Yang Memubahkan Nyanyian/ Musik
Terdapat beberapa riwayat yang isinya membolehkan nyanyian dan musik, diantaranya:

  • riwayat Thabrani dalam al-Kabir 14/247
  • Baihaqi 7/289
  • Hakim 1/184
  • ath-Thayalisi 1221
  • Ibnu Abi Syaibah 4/193
  • Ahmad dalam Musnadnya 6:/ 33/ 84/ 99/ 127/ 134
  • Bukhari dalam Shahihnya 2/ 440/ 445/ 474 dan 6/ 94/ 553 serta 7/ 264
  • Muslim hadits no 289
  • Nasa’i 3/ 195

Khatimah dan Harapan

Berulangkali saya sebutkan bahwa pembahasan ini adalah pada hakekat nyanyian dan musik, agar terhindar dari masalah yang tumpang tindih. Seperti yang diharamkan sebetulnya yang lain dari nyanyian, lalu yang diharamkannya nyanyian, atau yang dilarang itu kandungan yang dinyanyikan, lalu yang diharamkan nyanyiannya.

Menyanyikan sesuatu, menurut definisimya: Adalah melagukan dan mengiramakan suara beraturan. Oleh karena itu, apakah tidak termasuk dalam definisi tersebut, adzan, qira’ah dengan tartil, anasyid (syi’ir syi’ir), apabila kita ingin terus membahasnya. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati dan mengingat kepentingan bersama, apabila ada yang ingin membahas ulang masalah ini, hendaknya dalam menampilkan hadits mari seterusnya kita lengkapkan sanadnya dan matannya untuk dapat kita teliti bersama secara terbuka, dalam pengertian bantu membantu. Cara seperti itu juga telah lazim dikalangan ahli hadits bila orang bawakan hadits, dia dituntut dengan kata-kata: Isnadkan ! lalu setelah membawakan sanad, ganti ia bertanya: Mana yang dilemahkan pada sanad ini ?

Harapan yang kedua: Marilah kita bersama-sama berhati-hati terhadap sesuatu yang dapat melengahkan hidup kita ini termasuk juga nyanyian dan musik, dan kita bertanya kepada diri kita, sudah pantaskah kita sampai jingkrak-jingkrak dalam situasi umat Islam yang sangat menyedihkan ini?

Mudah-mudahan kita diberi oleh Allah kekuatan lahir dan batin untuk mengarungi samudera hidup yang bertambah lama bertambah sulit untuk dapat menggapai ridho-Nya. Amien.

sumber:

  1. HUKUM NYANYIAN DAN MUSIK MENURUT SYARI’AT ISLAM, oleh: Ustadz Y. J., al-Muslimun no. 263, Rajab-Sya’ban 1412 H/ Februari 1992
  2. HAKIKAT NYANYIAN DAN SUARA MUSIK, BETULKAH DIHARAMKAN SYARI’AT ISLAM, oleh: Ustadz A. A. Wiyono, al-Muslimun no. 264, Sya’ban-Ramadhan 1412 H/ Maret 1992.


Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: