jump to navigation

Tiga Lilin dan Kupu-kupu, dan Syair Lainnya. 24 Juni 2010

Posted by yopie noor in Syair dan Puisi.
Tags: , , , , , ,
trackback

Saadi (1184-1291).

Pada suatu malam, karena tak dapat tidur, aku mendengar kupu-kupu bicara pada lilin.

Aku cinta padamu, aku mengerti bahwa aku akan binasa,
akan tetapi engkau, mengapa gemetar dan mengapa membakar?

Lilin menjawab: pencinta yang menertawakan,
madu, teman saya yang manis telah terpisah dariku, semenjak rasa manisnya jauh dariku,
seperti Farhad, pencinta yang terbunuh, api membakar diriku.

Ketika lilin bicara, rasa sedih dari tangisan-tangisan tersebar dimukanya yang pucat.

Lilin berkata padaku: Engkau hanya pura-pura,
engkau tidak tahu apakah cinta itu, engkau tidak tahu menderita, dan tak tahu menyelamatkan diri.
Karena dengan menyentuh api sedikit saja engkau akan lari, adapun aku, aku tetap agar dimakan api,
jika api cinta membakar sedikit dari sayapmu, kamu harus berani membiarkannya terbakar seluruhnya.

Dan ketika malam belum menghabiskan saatnya, seorang wanita mendadak mematikan api lilin itu,
ketika lilin itu mengeluarkan asap ke atas, wanita itu berkata: Ini adalah hukum cinta yang tak dapat diubah, oh anakku.

Inilah rahasia itu, jika engkau ingin mengetahuinya, dari api cinta tak seorangpun dapat selamat, kecuali dengan mati.

Hafiz (1319-1389)

Sebagai lilin membakar jiwa, bercahaya dalam api cinta, dari hati yang suci aku mengorbankan badanku.

Selama engkau tidak seperti kupu-kupu, tertelan oleh nostalgia kesatuan.

Engkau tak akan dapat membebaskan diri, dari penderitaan cinta.

Geothe (1749-1832)

Matilah untuk hidup

Aku ingin memuji orang hidup yang ingin mati dalam api.
Dalam muslim seminya malam cinta.
Dimana Kau menerima kehidupan atau memberikannya.
Engkau merasakan suatu kebingungan aneh.
Di muka percikan api yang tanpa suara.

Engkau tidak diam terkungkung.
Didalam bayangan.
Suatu keinginan baru memanggilimu.
Kepada cinta yang lebih tinggi.
Tak ada jarak yang akan hentikan engkau.
Engkau melayang kepadanya, dan terperanjat.

Dan Engkau pencinta cahaya.
Engkau terbakar didalamnya seperti kupu-kupu.
Engkau hanya suatu bayangan dalam suatu malam di atas bumi.
Selama engkau tidak mengerti.
Hukum ini: matilah untuk hidup.

dan syair lainnya

Jalaluddin Rumi (1207-1273)

Tuhan telah menyembunyikan lautan dan mewujudkan buih.
Ia telah menyembunyikan angin dan menunjukkan debu.
Bagaimana pasir dapat berhamburan sendiri?
Tetapi kau melihat pasir dan tidak melihat angin.
Bagaimana buih dapat bergerak tanpa laut.
Tetapi kau melihat buih dan tidak melihat laut.
Ahli-ahli sihir, dihadapan para pedagang, mengukur sinar bulan dan mendapat upah emas.
Dunia ini adalah tulang sihir dan kita adalah para pedagang yang membeli cahaya bulan.

Hafiz

Dari saat ini, kitalah yang menciptakan alam.
Allah karena hukum alam ini O Zulaikha,
maka pada waktu fajar aku tertarik kepada bibirmu.
Dan malam yang penuh dengan bintang-bintang.
Dengan seribu cap emasnya telah mempererat persatuan kita.
Kita, masing-masing adalah citra dari hukum alam ini.
Dan seandainya sekali lagi dikatakan: Hai alam, jadilah.
Tak akan ada yang dapat memisahkan antara kita.

Andre Gide

Hai Nathanel, jangan mengharap menemukan Tuhan di satu tempat karena Tuhan berada dimana saja.
Tiap makhluk menunjukkan adanya Tuhan, tak ada makhluk yang tak menunjukkan ada-Nya.
Pada saat pandangan kita hanya berhenti kepada makhluk, tiap makhluk menjauhkan kita dari Tuhan.

Omar Khayam (died 1132)

Akulah yang menjadi kepala dari para langganan kabaret.
Akulah yang selalu berontak terhadap syari’at.
Akulah yang selama malam-malam yang panjang, menuangkan anggur yang murni.
Aku mengadu kepada Tuhan karena rasa sakit hatiku yang luka berdarah.

Promeses de L’Islam,
Roger Garaudy.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: