jump to navigation

Supaya Tidak Canggung Menolak Jabat Tangan Lawan Jenis 6 Juli 2010

Posted by yopie noor in Fiqih.
Tags: , , , ,
trackback

Soal:
Telah berkali-kali saya menemui kecanggungan dalam pergaulan saya. Untuk menghindari itu, kini saya ajukan pertanyaan: Bagaimanakah tentang berjabat tangan antara pria dengan wanita dipandang dari hukum Islam?Dan minta keterangan hikmahnya.

Jawab:
Sering dengan tidak sadar atau sadar orang mengatakan Islam melarang laki-laki berjabat tangan dengan perempuan asing. Tidak ada orang menyebut Islam melarang perempuan berjabat tangan dengan laki-laki asing. Padahal hukum agama itu mengenai kedua-dua pihak.

Kalau kita berkata A tidak boleh kawin dengan B, maka langsung ucapan kita itu menetapkan: B juga tidak boleh kawin dengan A.

Hukum Islam tentang berjabat tangan, ada sebagaimana sabda-sabda Nabi saw berikut ini:

لان يطعن فى رأس احد كم بمحيط من حد يد خير له من ان يمس امر أة لا تحل له

artinya: Bahwa ditikam di kepala seseorang dari kamu dengan jarum dari besi itu, ada lebih baik baginya daripada ia menyentuh perempuan yang tidak halal baginya. (HR. Thabarani).

Perkataan menyentuh disini meliputi semua macam sifat dan cara yang dapat dinamakan sentuhan.

Nabi saw bersabda,

انى لا اصا فح النساء

Sesungguhnya aku (Nabi) tidak berjabat tangan dengan perempuan (asing). (HR. Malik).

Berkata ‘Aisyah ra,

كان النبي ص ‏.‏ يبايع النسا ء با لكلام وما مست يد رسول الله ص . يد مرأة الا امر أة يملكها

artinya: Adalah Nabi saw bermubaya’ah kepada perempuan-perempuan (asing) dengan perkataan. Dan tidak pernah tangan Rasulullah saw menyentuh tangan seseorang perempuan melainkan perempuan yang halal bagi beliau. (HSR. Bukhari dan Muslim).

Tiga keterangan tersebut bersama ayat al-Qur’an yang melarang laki-laki dan perempuan berlihat-lihatan, dan Hadits yang melarang laki-laki dan perempuan bersendirian dan lain-lain lagi, memberi kesimpulan: Hukum Islam tidak membolehkan laki-laki atau perempuan (asing) berjabat tangan, baik dalam resepsi-resepsi, pertemuan-pertemuan atau lainnya.

Pandangan: Bagi orang yang kerjanya berjabat tangan, mendengar hukum agama tersebut, memang terasa berat menerimanya. Sedapat mungkin dicari-carinya jalan untuk mendapat kebenaran dari agama, karena sudah kepalang malu kepada peraturan internasional itu. Terasa olehnya aturan internasional lebih tinggi dari aturan agamanya.

Maka kalau saudara penanya mengalami perasaan demikian atau yang seumpamanya, sedang sedikit banyak saudara mengetahui larangan agama dalam hal itu, selama itu saudara akan merasa canggung bila tidak berjabat tangan. Orang yang mempunyai aturan berjabat tangan perasaannya sebalik saudara, malah orang ini akan berbangga karena aturannya dituruti.

Jika benar-benar saudara hendak mentaati larangan agama itu, patutlah saudara tanam dalam hati saudara fikiran-fikiran berikut ini:

  1. berjabat tangan dengan perempuan asing itu bukan aturan saudara, aturan saudara sebagai seorang Muslim adalah tidak berjabat tangan.
  2. aturan agama saudara lebih tinggi dari aturan manusia mana saja, menurut sabda Nabi saw:
    الاسلام يعلو ولا يعلى

    Islam itu tinggi, dan tidak dapat diatasi. (HR. Baihaqi).

  3. orang yang mempunyai aturan itu berhak memajukan aturan berjabat tangan, saudara juga berhak memajukan aturan saudara untuk tidak berjabat tangan.
  4. perasaan malu atau segan untuk menolak perempuan jabatan tangan itu, hendaklah saudara hilangkan jauh-jauh dari diri saudara.
  5. kalau orang menyesal karena saudara menolak pemberian jabatan tangan itu, saudara juga berhak menunjukkan penyesalan atas pemberian jabatan tangan itu.
  6. kalau dengan penolakan itu orang anggap saudara tidak sopan karena melanggar adat mereka, maka saudara berhak pula menganggap orang yang mengulurkan tangan untuk berjabat itu tidak sopan karena ia melanggar aturan agama saudara.


Mudah-mudahan dengan latihan perasaan dan fikiran-fikiran yang saya sebutkan, dapatlah saudara menghilangkan kecanggungan yang saudara alami.

Adapun hikmah larangan Agama tentang berjabat tangan dengan perempuan asing itu, dapat kita cukupkan dengan menyatakan bahwa larangan itu adalah sebagai salah satu dari jalan menghindarkan perhubungan antara laki-laki dan perempuan asing yang selalu dapat menimbulkan hal-hal yang tidak senonoh. Boleh saudara selidiki !.

Di hadapan ramai memang sering kita dapati seolah-olah berjabatan tangan itu dikerjakan dengan hati yang sungguh-sungguh ikhlas sebagai suatu cara penghormatan dan penghargaan, tetapi di belakang ramai di waktu sendirian, lain yang terjadi.

al-Ustadz Abdul Qadir H.‎

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: