jump to navigation

Hukum Membatas Kelahiran (KB) 11 Juli 2010

Posted by yopie noor in Fiqih.
Tags: , , , , ,
trackback

Diriwayatkan:

عن جابران رجلااتى رسول الله ‏:‏ فقال ان لي جاريت هى خادمتناوسانيتناوانااطوف عليهاوانااكره ان تحمل فقال اعزل عنهاان شئت فانه سياتيهاقدرلها

artinya: Dari Jabir bahwa seorang laki-laki datang kepada Rasulullah saw lalu berkata: Sesungguhnya saya mempunyai seorang jariah (hamba), ia menjadi pelayan dan penyedia air kami, sedang saya bersetubuh dengan dia tetapi saya tidak suka dia bunting. Maka Nabi bersabda: “Ber’azallah daripadanya jika engkau suka, sesungguhnya akan terbit daripadanya apa yang sudah ditakdirkan kepadanya”. (HSR. Muslim, Abu Dawud dan Ahmad).

‘Azal itu ialah mencabut kemaluan ketika bersetubuh untuk ditumpahkan di luar tempatnya.

Perkataan orang itu: “Saya tidak suka ia bunting”, menunjukkan ia hendak membatas kelahiran. Lalu oleh Nabi saw dibenarkan dengan sabda beliau: “Ber’azallah”.

Ada lagi riwayat dari Jabir, ia berkata:

كنانعزل على عهد رسول الله ‏:‏ فبلغ ذلك نبى الله ‏:‏ فلم ينهنا

artinya: Biasa kami (shahabat-shahabat) ber’azal di zaman Rasulullah saw. Kabar perbuatan ini sampai kepada Nabiyullah saw tetapi beliau tidak melarang kami (berbuatnya). (HSR. Muslim).

‘Azal yang mereka kerjakan ini pada umumnya untuk “membatas kelahiran anak”.

‘Azal itu ialah satu dari cara-cara membatas kelahiran yang pernah terjadi di zaman Nabi.

Maka cara yang lain boleh dilakukan asal tidak merusak. Hal ini baiklah dimintai nasihat dan pertimbangan dokter.

Hendaklah diketahui bahwa “menggugurkan” anak yang sudah jadi dalam perut itu, lain persoalannya. Perbuatan ini tidak syak lagi haramnya, karena dengan “menggugurkan” anak berarti “membunuh” anak itu, sedang membunuh adalah suatu perbuatan yang terlarang.

Berikut ini dibawakan pendapat atau alasan orang yang berpendirian “tidak boleh membatas kelahiran”, lalu saya iringi dengan bantahan atas tiap-tiap keterangannya itu.

Diriwayatkan:

عن عمر ان النبي ‏:‏ نهى عن العزل عن الحرةالاباذنها ‏

artinya: Dari Umar, bahwa Nabi saw telah melarang ber’azal dari perempuan yang merdeka, kecuali dengan seizinnya. (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).

Dari riwayat-riwayat ini golongan yang mengatakan tidak boleh membatas kelahiran itu mengambil kesimpulan, bahwa: ‘Azal maksudnya membatas kelahiran, ‘azal dilarang oleh Nabi saw, jadi “membatas kelahiran” juga terlarang. Larangan ini khusus untuk perempuan merdeka. Adapun terhadap hamba boleh ‘azal, sebagaimana riwayat Ahmad, Muslim dan Abu Dawud di atas (hadits pertama) dan lain-lainnya lagi.

Bantahan:
Pertama: Riwayat diatas itu tidak begitu shah karena dalam sanadnya ada seorang bernama ibnu lahi’ah yang diperselisihkan oleh ulama hadits tentang kekuatan hapalannya. (Tahdzibut-Tahdzieb 5 hal. 373). Jadi tidak bisa dijadikan alasan dalam persoalan ‘azal.

Kedua: Kalau ditakdirkan riwayat itu shah, perlu diperbincangkan bahwa ‘azal itu walaupun maksud orang yang mengerjakannya untuk membatas kelahiran, tetapi ‘azal itu bukan pembatas kelahiran. ‘azal adalah sebagai suatu cara persetubuhan. Maka kalau riwayat ini sah, paling banyak yang Nabi larang ialah ‘azalnya, bukan pembatas kelahirannya. Perhatikan perbedaan ini.

Ketika ada orang bertanya tentang ‘azal, Rasulullah saw menjawab:

ذلك الوأدالخفى ‏

artinya: ‘Azal adalah penguburan hidup-hidup yang tersembunyi. (HSR. Muslim).

Maksudnya: ‘Azal itu serupa dengan menanam (mengubur) anak dengan hidup-hidup, tetapi ‘azal itu suatu perbuatan yang tersembunyi.

Dari hadits ini, orang mengeluarkan pendapat: Tidak boleh membatas kelahiran, karena apabila ‘azal yang maksudnya membatas kelahiran dikatakan mengubur hidup-hidup, tentulah membatas kelahiran juga demikian hukumnya, sedang mengubur anak hidup-hidup itu sudah terang larangannya.

Bantahan:
Pertama: Kalau hadits itu dianggap sebagai larangan ‘azal, maka akan bertentangan dengan riwayat Jabir yang mengatakan Nabi tidak melarang itu (lihat hadit kedua). Dan akan berlawanan pula dengan hadits pertama yang menyuruh ber’azal. Ini tentu tidak bisa jadi. Nyata kalau hadits Nabi itu mempunyai maksud lain.

Kedua: Dalam hadits tersebut sama sekali tidak ada larangan, hanya ‘azal itu disebut penguburan tersembunyi. Penguburan tersembunyi tidak sama dengan penguburan yang nyata.

Penguburan yang sebenarnya ialah suatu perbuatan yang ada prakteknya yaitu kenyataan betul-betul menanam anak, sedang penguburan tersembunyi itu tidak ada kenyataan menanam anak. Jadi tidak dapat diqias-qiaskan.

Maka nyatalah hadits Nabi itu mempunyai makna yang lain.

Ketiga: Sesudah jelas bahwa hadits itu tidak bisa dijadikan alasan untuk mengharamkan ‘azal, maka maksud yang hampir kepada hadits itu adalah bahwa hadits itu sebagai suatu perbandingan.

Demikian perbandingannya:
“Orang yang berbuat ‘azal itu karena hendak lari dari bunting, lalu ia melaksanakan tujuannya itu, seperti ia melaksanakan penguburan hidup-hidup.”. Beginilah pendapat sebagian ulama (lihat Fathul Bari 9: 249).

Rasulullah saw pernah bersabda tentang ‘azal begini:

لا عليكم ان لا تفعلو افإ نماهو القدر

Oleh golongan yang mengharamkan ‘azal, sabda Nabi itu diartikan demikian:‎

  • ( لا‎ ‎) mereka artikan “jangan”.
  • sesudah ( لا‎ ‎) ini mereka takdirkan ada kata-kata yang dibuang, yaitu‏ ‏‎”kamu ber’azal”.
  • sebelum ( عليكم‎ ‎) mereka takdirkan ada و‎ artinya: dan.

Dengan demikian maka arti hadits itu menjadi:
artinya: Jangan engkau ber’azal, dan wajib atas kamu untuk tidak mengerjakannya karena ia itu hanya qadar.

Bantahan
Menurut bahasa Arab, hadits itu memang dapat juga diartikan seperti tersebut. Kalau arti ini kita terima, maka maknanya akan kelihatan berlawanan dengan hadits-hadits yang membolehkan ber’azal. Mustahil sabda Nabi saw bisa bertentangan dengan sabdanya yang lain. Karena itu, hadits itu mesti mempunyai makna lain. Diantara ulama-ulama ada yang mengartikan demikian:

“Tidak ada halangan atas kamu untuk mengerjakannya, karena sesungguhnya ia itu hanya qadar”. (Maksudnya: Kalau tidak dikerjakan, tidak mengapa).

Menurut ini, boleh ber’azal. Arti ini sesuai dengan isi hadits pertama dan kedua diatas.

Alasan lain yang dibawakan golongan yang mengharamkan ‘azal, yaitu bahwa kita diperintah Allah untuk kawin. Kawin ini membuahkan anak, pembuahan anak itu berarti melarang tidak beranak. Jadi pembatasan kelahiran itu terlarang.

Bantahan
Betul kita diperintah kawin, tetapi hendaklah dibeda-bedakan bahwa kawin bukan berarti beranak, walaupun dengan kawin lazim orang mendapat anak. Tidak ada nash agama dan tidak ada kemestian alam bahwa kawin itu untuk beranak semata-mata.

Yang dapat dipastikan bahwa kawin itu adalah salah satu jalan untuk melepaskan nafsu manusia yang memang sudah ditakdirkan adanya oleh Allah.

Malah dalam satu hadits, Nabi saw bersabda:

يامعشر الشباب امن استطاع منكم الباءة فليتزوج فانه اغض للبصرواحصن للفرج ومن لم يستطع فعليربالصوم فانه له وجاء

artinya: Wahai golongan pemuda! Barangsiapa dari antara kamu sanggup kawin, maka hendaklah ia kawin, karena sesungguhnya itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan, tetapi barangsiapa tidak sanggup hendaklah ia berpuasa, karena sesungguhnya puasa itu suatu obat baginya. (HSR. Bukhari dan Muslim).

Kawin yang pertama itu maksudnya bersetubuh dan kawin itu maksudnya kawin seperti biasa ulama mengartikan demikian, karena sambungan hadits itu menyatakan bahwa barangsiapa tidak sanggup, dianjurkan supaya berpuasa.

Hadits Nabi ini tegas menunjukkan bahwa perkawinan itu adalah berhubungan dengan nafsu, bukan berhubungan dengan mendapatkan anak.

Karena ini faham orang yang mengharamkan pembatasan kelahiran dari hadits ini, tidak kena.

Demikianlah secara ringkas beberapa alasan dan bantahannya. Dari bantahan-bantahan tersebut semua dapat diketahui bahwa alasan-alasan, dalil-dalil dan keterangan-keterangan yang orang pergunakan sebagai larangan pembatasan kelahiran itu tidak ada satupun yang dapat diterima sebagai dasar agama.

Ustadz Abdul Qadir H

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: