jump to navigation

SURAT-SURAT BERSIH DIRI MUHAMMAD BIN ABDUL WAHAB (2) 13 Juli 2010

Posted by yopie noor in Tarikh.
Tags: , , ,
trackback

Surat beliau kepada penduduk Riyadh dan Manfuhah ketika beliau bermukim di al-‘Uyaynah. Surat ini beliau kirimkan pula kepada Abdullah bin ‘Isa, seorang hakim tinggi di wilayah ad-Dir’iyah sebagai tanggapan atas desas-desus yang cukup gencar.

Bismillahirrahmanirrahim

Dari Muhammad bin Abdul Wahab kepada semua kaum Muslimin yang menerimanya.

Salamun ‘alaikum wr wb… Adapun setelah itu

Allah swt berfirman:

“Dan orang-orang yang membantah (agama) Allah sesudah agama itu diterima, maka bantahan mereka itu sia-sia saja, di sisi Tuhan mereka. Mereka mendapat kemurkaan (Allah) dan bagi mereka adzab yang sangat keras”. (asy-Syu’ara: 16).

Hal ini dikarenakan Allah telah mengutus Muhammad saw agar menerangkan kepada seluruh manusia tentang yang haq dan bathil. Maka beliau saw dengan sangat jelas dan gamblang menjelaskan segala yang mereka bantahkan kepada Allah dalam masalah agama mereka. Bahkan beliau saw tidak wafat sehingga manusia berada pada keputihan jalan, malamnya bagaikan waktu siangnya.

Bila anda telah mengerti hal ini, maka mereka syaitan-syaitan itu adalah manusia paling jengkel dalam membantah Allah setelah mereka menerimanya. Mereka bantah bila melihat seseorang mengajarkan kepada manusia apa yang diperintah Rasulullah saw. Seperti “Syahadatu alla ‘ilaha ilal’lah” dan segala sesuatu yang menjadi larangan bagi mereka. Seperti meyakini makhluk-makhluk shalih dan lain-lainnya. Mereka bangkit menentang dan mencampur baurkan antara yang haq dan yang bathil, sambil berkata: Mengapa kalian mengikafirkan orang-orang Muslim, dan mengapa kalian memaki-maki orang mati keluarga Fulan yang ramah menjamu tamu-tamu, keluarga si Fulan yang ahli begini begini. Tapi maksud mereka itu tidak lain kecuali akan mengubur dalam-dalam makna “La ilaha illal’lah”, sehingga jelaslah bahwa keyakinan kepada para shalihin akan memberi manfaat dan mudharat serta do’a-do’a mereka adalah kafir. Mereka menukilnya dari al-Millah. Kemudian manusia itu berkata kepada mereka: “Sesungguhnya kalian sebelum ini adalah orang-orang bodoh; untuk apa kalian tidak menyuruh kami melaksanakan kebenaran ini”.

Saya kabarkan anda, bahwa saya sendiri -demi Allah yang tiada tuhan selain Dia- baru saja telah mengkaji ilmu tauhid ini. Dan saya yakin, bahwa orang yang mengenal saya akan beranggapan bahwa saya telah memiliki ilmu pengetahuan yang benar tentang tauhid itu. Padahal waktu itu saya tidak tahu makna “La ilaha illal’lah”, tidak tahu apa itu Islam, sebelum Allah menganugerahkan kebaikan ini. Demikian guru-guru saya, tak seorang pun di antara mereka yang tahu. Maka bila ada salah seorang ulama dari al-‘Aridh berkata, bahwa sebelum ini dia telah mengetahui makna “La ilaha illal’lah”, atau dia mengaku tahu makna agama Islam, atau berkata bahwa salah seorang gurunya telah mengetahuinya, maka dia telah berbohong. Dia telah berdusta, dan mengelabui manusia serta memuji-muji dirinya.

Buktinya ialah, bahwa saya sendiri tak kenal seorang ulama pun yang lebih mulia dari Abdullah bin ‘Isa, di antara jajaran para ulama Nejed dan al-‘Aridh ataupun yang lainnya.

Dia insya Allah, anda sekalian telah mendengarkan kata-katanya. Karena itu, taqwa lah anda semua pada Allah, jangan sombong terhadap Tuhan dan Nabi anda. Pujilah Tuhan anda yang Maha Suci dan Yang Memberi segala sesuatu kepada anda, maka anda akan menerima dengan gembira orang yang memberi tahu anda tentang agama Nabi anda saw. Dan janganlah anda termasuk orang yang menukar nikmat Allah dengan kekufuran, dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan, yakni neraka jahannam, seburuk-buruk tempat kediaman.

Bila mengenai hal itu, haruslah anda ketahui, bahwa seorang yang mengucapkan “La ilaha illal’lah” itu harus utuh nafi dan itsbatnya. Itsbat (menetapkan) bahwa Uluhiyah (ke-Tuhanan) itu segalanya milik Allah semata, dan nafi (membuang) segala penuhanan para Nabi dan para shalihin, dan sebagainya.

Maka Uluhiyah bukan berarti Dia tidak mencipta, atau tidak memberi rizki, tidak mengatur, tidak menghidupkan dan tidak mematikan kecuali Allah. Sebab orang-orang kafir yang diperangi Rasulullah saw menyatakan ikrar akan tauhid ini. Sebagaimana Allah berfirman:

“Katakanlah: Siapakah yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati, dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan? Maka mereka akan menjawab “Allah”. Maka katakanlah: Mengapa kamu tidak bertaqwa (kepada-Nya). (Yunus: 31).

Anda sebagai hamba Allah, berpikirlah tentang orang-orang kafir yang diterangkan Allah ini. Mereka semua ikrar bahwa apa yang diterangkan tadi hanyalah bagi Allah semata tanpa sekutu bagi-Nya. Mereka hanya syirik dengan mendo’a para Nabi dan para shalihin, memuja-muja mereka dan bernadzar untuk mereka, bertawakal kepada mereka agar didekatkan kepada Allah, sebagaimana difirmankan Allah:

“Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. (az-Zumar: 3).

Kalau anda tahu, para taghut tulang keruk kekayaan yang disembah manusia itu sangat tersohor di kalangan tertentu dan masyarakat awam. Mereka memerintahkan manusia agar bernadzar, kemudian mengeruk dari balik dinding dan bebatuan. Mereka semua murtad, keluar dari Islam. Orang yang mendebat perbuatan mereka, atau menolak orang yang mengkafirkan mereka, atau beranggapan bahwa walaupun perbuatan mereka itu bathil, tidak membuat mereka kafir, maka paling tidak pendebat itu fasik. Perbuatan mereka tidak diterima, demikian pula syahadat yang mereka ucapkan dan tidak boleh bersembahyang di belakang mereka, bahkan Islam seseorang tidak sah kecuali suci dari mereka dan mengkafirkan mereka. Allah telah berfirman:

“Karena itu, barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya dia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat. (al-Baqarah”: 253).

Sebagai bukti, bila anda melihat seorang yang ingkar dan membelot dari firman ini, tidak syak lagi: kalau tidak, dia akan mengaku seorang yang arif, maka katakan saja kepadanya: Ini masalah besar yang tak kan pernah terlupakan. Bila anda belum tahu dalil dari firman Allah dan Rasul-Nya, silahkan petik dari pendapat ulama sebagai bukti kebenaran anda. Kalau dia berkata bahwa dia mempunyai dalil, suruhlah dia menulisnya, sehingga saya bisa mengajukannya kepada alim-ulama ahli ma’rifah, sehingga masalahnya menjadi jelas, bahwa kebenaran ada pada anda. Saya tambahkan pula, bahwa Nabi saw telah menerangkan perbedaan antara yang haq dan yang bathil. Bila pendebat itu mengaku bodoh, tidak tahu apa-apa, ahai… sebagai seorang hamba Allah mengapa anda harus membiarkan perbuatan dan perkataan yang dibenci Allah dan Rasul-Nya, dan mengeluarkan anda dari agama Islam karena mengikuti seorang laki-laki yang berkata: “Sungguh saya seorang yang arif”, namun setelah anda memintanya sebuah dalil, dia tidak tahu apa-apa sebagaimana yang anda sendiri ketahui. Atau jelas-jelas akan mengikuti seorang yang bodoh, yang menentang bila diajak taat kepada Tuhan anda dan kepada apa yang diterangkan Nabi anda saw dan para alim ulama setelah beliau? Ingatlah baik-baik apa yang dikisahkan Allah kepada anda dalam kitab-Nya, agar anda mengambil i’tibar, Dia berfirman:

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus kepada (kaum) Tsamud saudara mereka Shalih (yang menyeru): Sembahlah Allah. Tetapi tiba-tiba mereka (jadi) bermusuhan. (an-Naml: 45).

Mereka itu akan dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, lalu bagaimana dengan anda? Seorang yang membawa perintah Rasul saw telah datang memberi kabar kepada anda. Bila anda mau menjadi seperti dua golongan yang bermusuhan, apakah anda tidak takut akan adzab seperti yang telah menimpa mereka?

Alhasil, masalah tauhid bukanlah seperti masalai-masalah ibadah khusus, tapi ia wajib dianalisa dan diperdalam oleh setiap alim dan bodoh, seorang muhrim dan bukan muhrim, dan laki-laki serta perempuan. Saya katakan kepada anda: Patuhilah saya, tapi pada apa yang saya katakan. Kalau anda beranggapan bahwa Allah swt menganugerahi anda nikmat dan mengutamakan anda dengan Muhammad saw serta menerang seluruh agama anda, maka jangan sekali-kali anda mematuhi saya, juga yang selain saya. Silahkan anda lakukan sebanyak mungkin apa yang diperintahkan Nabi anda dan ulama yang datang setelah beliau, jangan sekali-kali anda mendongkoli Muhammad saw. Sedangkan ucapan anda bahwa saya mengkafirkan orang-orang Muslim, mengapa ini bisa terjadi dan mengapa tindakan anda begitu? Sesungguhnya saya tidak pernah mengkafirkan orang-orang Muslim, tapi yang saya kafirkan hanyalah orang-orang musyrik.

Dan manusia yang paling sesat juga adalah orang yang bertasawwuf di mi’kal (suatu tempat pengasingan) dan semacamnya, seperti Walad Musa bin Jau’an. Para alim ulama mengatakan bahwa Ibnu ‘Arabi adalah di antara deretan para tokoh atheis (al-ittihadiyah), padahal mereka adalah manusia paling kafir melebihi orang-orang Yahudi dan Kristen. Maka siapa yang belum masuk agama Muhammad saw dan mensucikan diri dari faham atheis, dia kafir dan suci dari Islam, tidak sah bershalat di belakangnya dan syahadatnya tidak diterima.

Yang sangat mengherankan adalah, bahwa orang yang mengaku ilmuwan itu beranggapan bahwa dia tidak perlu mengikuti firman Allah dan sabda Rasul-Nya, bahkan dia mengaku tahu tentang pendapat-pendapat golongan mutaakhirin, sebagaimana disebutkan dalam kitab Iqna’. Padahal pengarang Iqna’ sendiri mengatakan bahwa siapa yang ragu-ragu mengkafirkan mereka, tuan-tuan syekh itu, maka dia telah kafir. Maha Suci Allah, bagaimana bisa terjadi, mereka mengamalkan apa yang ada di dalam kitab mereka, tapi orang yang mengamalkannya dikatakan kafir. Dan lagi, mereka berkata: Saya ahli ma’rifah dan kebenaran, yang lain anak kecil bodoh. Anak kecil itu berkata: “Tampakkan pada saya kitab anda!”. Ternyata mereka enggan menampakkannya, tapi dalam hal ini mereka tidak menunjukkan kebodohan dan kesesatan mereka.

Dan lagi, bahwa mereka itu bodoh dan sesat tampak bila mereka melihat seseorang mengajarkan “Syahadatu alla ilaha illa’lah” kepada kaum tua dan muda di kalangan mereka. Mereka berkata: “Katakan kepada mereka, agar mereka meninggalkan perbuatan haram!”. Inilah bukti paling nyata bahwa mereka itu tolok, mereka tidak tahu apa-apa kecuali menguras harta kekayaan, sedangkan kepada masalah kejahatan syirik mereka buta. Allah ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kedzaliman yang besar”. (Luqman: 13).

Lalu kedzaliman macam apa yang keluar dari Islam, apakah yang diucapkan dengan kalimatnya, atau memuji para thaghut atau mendebat mereka. Walaupun mereka berpuasa dengan berbuat dzalim yang tidak keluar dari Islam. Pilih saja, apakah mereka harus dikisas atau menunggu ampunan Allah? Nyata, bahwa pada keduanya terdapat perbedaan yang besar.

Singkatnya, kalau anda mengerti apa yang tersebut di atas, bahwa Nabi saw telah menerangkan agama, ketahuilah semua itu, bahwa mereka setan-setan itu telah banyak menghalalkan yang haram dalam masalah riba, jual beli dan sebagainya. Mereka kerap mengharamkan yang halal bagi anda, mereka mempersempit hal-hal yang diberi kelapangan oleh Allah. Kalau anda mendapatkan perselisihan faham, maka bertanyalah kepada sumber yang dalangnya dari Allah dan Rasul-Nya, jangan mematuhi saya atau orang lain.

Wa salamun ‘alaikum wr. wb.

Sumber:

  • al-Makhthuthah hal. 79-83
  • al-Mushawwarah hal 77-80
  • ad-Durar as-Sunniyah jilid VI, hal. 70-73

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: