jump to navigation

Hukum Ber-Madzhab 17 Juli 2010

Posted by yopie noor in Fiqih.
Tags: , , , , , , , ,
trackback

Madz-hab itu artinya: perjalanan, pendapat, pendirian, faham, pegangan, aliran, dan juga bermakna sekte atau doktrin dalam bahasa asing.

Tidak ada satupun perintah atau kebenaran dari agama untuk berpegang kepada salah satu madzhab.

Kita diperintah untuk berpegang kepada mana yang benar, sedang yang benar itu tidak akan terdapat melainkan dalam Qur’an dan Hadits Nabi saja.

Allah berfirman:
Sesungguhnya (Qur’an) ini adalah jalan-Ku yang lurus. Karena itu hendaklah kamu turut dia, dan jangan kamu menurut “beberapa jalan”, sebab jalan-jalan itu akan menceraikan kamu daripada jalan Allah. Demikianlah Allah berpesan kepadamu supaya kamu bertaqwa. (QS. al-An’am: 153).

Firman-Nya lagi;
Turutlah apa-apa yang diturunkan kepada kamu dari Tuhan kamu, dan jangan kamu turut “pemimpin-pemimpin” yang lain daripada-Nya. Amatlah sedikit kamu mengambil pelajaran (pada mereka). (QS. al-A’raf: 3).

Dan tidak ada satupun perkataan imam-imam yang menyuruh kita mengikuti faham mereka, yang ada malah sebaliknya, yaitu:

Imam Ahmad berkata: Jangan engkau bertaqlid (turut-turut) kepadaku, jangan (turut) kepada Malik, jangan (turut) kepada imam Tsaury tetapi ambillah (hal agamamu) dari tempat mereka mengambilnya (yaitu Qur’an dan Hadits)

Imam Malik berkata: Aku ini hanya seorang manusia yang boleh jadi salah dan boleh jadi betul. Oleh karena itu, perhatikanlah pendapatku. Tiap-tiap yang cocok dengan Kitabullah dan Sunnah Rasul, ambillah, dan tiap-tiap yang tidak cocok dengan Kitabullah dan Sunnah Rasul, tinggalkanlah.

Imam Abu Hanifah berkata: Tinggalkanlah perkataanku (pendapatku) yang berlawanan dengan Firman Allah dan Sabda Rasul-Nya, dan omongan shahabat.

Imam Syafi’i mengucapkan perkataan-perkataan berikut ini:

  • Tidak boleh diterima perkataan seseorang jika berlawanan dengan Sunnah Rasulullah saw.
  • Apabila telah sah satu Hadits, maka buanglah perkataanku (pendapatku) ke pinggir.
  • Apabila sah khabar dari Nabi saw yang menyalahi madzhab-ku, maka turutlah khabar itu, dan ketahuilah bahwa itulah madzhabku.
  • Tiap-tiap masalah yang riwayatnya sah dari Rasulullah saw, tetapi menyalahi fatwaku, maka aku ruju’ (tarik kembali) daripada fatwaku itu di waktu aku masih hidup dan sesudah matiku.

Ucapan-ucapan keempat imam tersebut dan ada banyak lagi yang seumpamanya, semua melarang kita menurut madzhab mereka.

Tanya Jawab:

Ada yang berkata bahwa orang wajib menurut salah satu madzhab itu. Kalau tidak, berdosa dan ada yang berkata kafir?

Sesudah nyata keterangan-keterangan diatas, alangkah lancangnya orang yang berkata wajib bermadzhab!

Kalau dikatakan tidak bermadzhab itu berdosa, maka bagaimana dengan keadaan shahabat-shahabat Nabi dan orang-orang Islam yang berada dalam abad pertama sebelum kedatangan imam-imam itu? Apakah mereka ini berdosa semua? Semua kafir? Na’udzu billah min dzalik!

Kalau tidak bermadzhab itu berdosa, tentunya Imam Syafi’i berdosa karena tidak bermadzhab Malik atau Hanafi. Tentu imam Ahmad berdosa karena tidak bermadzhab Syafi’i, Maliki atau Hanafi. Begitu juga imam Malik dan imam Abu Hanifah, kedua-duanya berdosa karena tidak bermadzhab Syafi’i.
Maukah saudara-saudara ahli madzhab mengatakan demikian?

Kata golongan madzhab kita ini bodoh, imam-imam itu pandai. Jadi seharusnya kita menurut mereka saja.

Untuk mengakui kita bodoh, itu tidak ada halangan asal memang bodoh.

Imam-imam dengan Nabi, siapakah yang lebih pandai? Tentu jawabnya Nabi saw. Kalau Nabi yang lebih pandai, mengapa kita mau menurut orang-orang yang kurang pandainya dari Nabi? Tidakkah lebih sempurna kita menurut yang lebih pandai daripada yang baru pandai.

Adakah orang-orang selain Nabi, yang lebih pandai dari imam-imam yang empat itu?

Ada banyak yang jauh lebih pandai dari imam-imam itu, yaitu shahabat-shahabat Nabi, mereka ini orang yang tidak bermadzhab. Dan beberapa imam-imam lain.

Adakah terdapat pendapat seorang imam bertentangan dengan seorang imam lain?

Ada beratus-ratus, berikut ini sebagiannya:

  • Tentang anjing, imam Ahmad, Syafi’i dan Abu Hanifah berpendapat “anjing najis”, tapi imam Malik mengatakan “suci”.
  • Tentang babi, Imam Syafi’i menetapkan babi najis, tapi imam Malik mengatakan suci waktu hidupnya.
  • Tentang kucing buas, imam Abu Hanifah berpendapat haram dimakan, begitu juga imam Syafi’i. Imam Malik berkata makruh. Dari Imam Ahmad ada dua riwayat, yang satu mengatakan halal dan yang lain mengatakan haram. Tentang kucing ini saja ada tiga pendapat.
  • Tentang kodok, imam Malik berpendapat boleh dimakan, tetapi imam Ahmad berpendapat tidak boleh. Jadi ada dua macam pendapat.
  • Tentang kuda, menurut imam Syafi’i dan Ahmad, kuda itu halal, imam Malik berkata makruh, tapi imam Abu Hanifah berkata haram. Tentang satu binatang ada tiga pendapat.

Perhatikan perbedaan faham imam-imam itu. Kalau kuda itu haram betul, makruh betul dan halal juga betul, maka yang manakah yang salah?

Yang mana yang harus diturut? Mereka akan jawab salah satunya. Kalau salah satu yang diturut, berarti yang lainnya salah, karena tidak diturut.

Kalau ketiganya benar, tidak ada yang salah, mestinya ketiganya itu boleh diturut. Tetapi kaum madzhab berkata tidak boleh turut semua, harus memilih salah satunya.

Kalau dua yang bertentangan itu benar dua-duanya, mestinya tidak boleh disalahkan orang yang berkata babi haram dan yang berkata babi halal. Keanehan-keanehan seperti inilah yang akan kita dapati pada kaum bermadzhab.

Tetapi agama, dan juga akal sehat tidak dapat menerima kalau yang benar itu ada dua, atau tiga atau lebih. Yang benar itu mesti satu.

Oleh karena itu, diantara pendapat imam-imam tadi mesti ada satu saja yang benar. Untuk memutuskan mana yang benar dan mana yang salah, tidak ada jalan lain melainkan kembali kepada Qur’an dan Hadits.

Mengapakah pendapat antara imam-imam itu tidak sama?

Mereka berselisih dalam masalah-masalah furu’ itu karena:

  • Adakalanya seorang imam mengeluarkan fahamnya dari satu Hadits atau Riwayat yang dianggapnya sah, tetapi tidak sah bagi yang seorang lagi.
  • Adakalanya seorang imam tidak mendapat Hadits dalam sesuatu masalah, lalu ia menggunakan qias atau fikiran, sedang Hadits itu didapati oleh imam yang lain.
  • Adakalanya mereka tidak mendapati Hadits untuk suatu masalah sehingga mereka menggunakan jalan qias atau fikiran dikala itu, sedang Hadits tersebut diketahui oleh orang-orang di belakang mereka.
  • Terkadang jalan fikiran mereka dalam menimbang ada berlainan., sehingga keputusannya juga berbeda.

Imam Abu Hanifah, biasa sesudah memberi fatwa, berkata: Ini pendapat Abi Hanifah, dan ini sebaik-baik pendapat yang kami berkuasa atasnya, tetapi barangsiapa menunjukkan kepada kami yang lebih daripadanya, maka itulah yang lebih patut menjadi kebenaran.

Imam Malik, apabila meng-istinbath (mengeluarkan) sesuatu hukum, ia berkata kepada sahabatnya: Perhatikanlah dia, sesungguhnya itu agama, omongan seseorang boleh di ambil dan boleh di tolak, kecuali sabda orang yang mempunyai taman ini (Nabi saw).

Imam Syafi’i berkata kepada Rabie: Wahai Aba Ishaq, jangan engkau taqlid kepadaku dalam tiap-tiap apa yang aku katakan, perhatikanlah dia untuk dirimu, karena itu agama.

Imam Ahmad berkata: Perhatikanlah urusan agamamu, karena taqlid kepada orang yang tidak ma’shum itu tercela…

Imam-imam itu tidak menetapkan bahwa apa-apa pendapat mereka itu semua betul, malah mereka anjurkan agar diperhatikan lagi.

oleh: Abdul Qadir H.

Komentar»

1. Hukum Orang Awam Menuruti Imam « Hamba-Mu's Site - 4 Agustus 2010

[…] admin: Jawaban untuk pertanyaan terakhir, silahkan kunjungi Hukum Ber-Madzhab […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: