jump to navigation

PIDATO NABI YANG MENGHARUKAN 19 Juli 2010

Posted by yopie noor in Fiqih.
Tags: , , ,
trackback

Tidak syak lagi, Rasulullah adalah pemimpin besar yang ahli dalam berpidato. Diriwayatkan, apabila beliau berada diatas mimbar berpidato, akan berubah merahlah mata beliau, menandakan semangat dan kesungguhannya.

Suatu kali beliau pernah berpidato dengan amat mengharukan, menyentuh kalbu pendengarnya. Begitu intensnya sampai mereka menangis tersedu-sedu. Ini terjadi ketika beliau berpidato dalam acara khusus, dihadapan kaum Anshar, sehubungan dengan penjelasan beliau mengenai harta rampasan perang Hunain.

Seperti diketahui, rampasan perang Hunain banyak diberikan kepada orang-orang Quraisy, terutama pemukanya. Sementara orang-orang Anshar yang telah banyak sekali perjuangannya, hanya mendapat bagian yang sedikit.

Sebagai contoh, terhadap Abu Sufyan yang ikut berperang di barisan Islam baru pertama kali, mendapatkan bagian 40 ‘uqiyah emas dan 100 ekor unta. Demikian pula tokoh Quraisy lain, Hakim bin Hizam, muallaf yang pernah melarikan diri keluar negeri di saat peristiwa Fathu Makkah karena ancaman hukuman mati, mendapatkan bagian 200 ekor unta. Sedangkan umumnya orang-orang Anshar tidak mendapatkan bagian kecuali hanya sedikit. Hal ini menyebabkan kekecewaan dan desas-desus yang semakin menyebar, seolah-olah Nabi hanya mementingkan kaumnya, kaum Quraisy. Kaum Anshar yang telah lama berjuang mendampinginya tidak diperhatikan.

Desas-desus itu semakin santer dan merata, bahkan telah mendekati taraf yang berbahaya, sehingga salah seorang wakil kaum Anshar, Sa’ad bin ‘Ubadah, memberanikan diri menghadap Nabi demi kemaslahatan kaum Muslimin. Sa’ad berkata kepada beliau: “Wahai Rasulullah, sebagian besar orang-orang Anshar merasa tidak enak hatinya, ketika engkau memberikan bagian harta rampasan Hunain tempo hari. Menurut mereka, engkau memberikan bagian terhadap kaum-mu (kaum Quraisy) bagian yang banyak, sedangkan kaum Anshar tidak mendapatkan bagian yang berarti”.

Mendengar perkataan Sa’ad, Rasulullah bersabda: “Lalu bagaimana menurut pendapatmu sendiri, wahai Sa’ad?”. Jawab Sa’ad: “Saya berada di fihak kaumku”. Kata Rasulullah: “Jika demikian, kumpulkanlah kaummu itu dan saya akan berbicara dengan mereka”.

Setelah dikumpulkan, maka Sa’ad kembali menghadap Rasulullah seraya berkata: “Orang-orang Anshar telah berkumpul, wahai Rasulullah”.

Rasulullah kemudian bangkit dari tempatnya menuju ke mimbar. Setelah membuka pidatonya dengan pujian dan tasbih kepada Allah, beliau kemudian berkata: “Wahai kaum Anshar, telah sampai berita kepadaku bahwa kalian mempunyai perasaan tidak enak terhadapku dalam hal harta rampasan Hunain. Saudara-saudara Anshar! Ingatlah! Bukankah aku telah datang kepadamu sewaktu engkau tersesat, lalu Allah memberikan petunjuk melaluiku? Bukankah aku dapati engkau miskin, kemudian Allah menjadikan engkau kaya? Bukankah aku dapati engkau selalu bermusuhan, lalu Allah menyatukan hatimu?”.

Orang-orang Anshar menyela: “Allah dan Rasul-Nya lebih banyak memberi dan lebih utama”.

Rasulullah melanjutkan: “Tidakkah engkau akan menjawab, wahai kaum Anshar?”. Mereka menjawab: “Dengan apa kami harus menjawabnya, wahai Rasulullah?”.

Rasulullah melanjutkan lagi: “Demi Allah, seandainya engkau mau mengatakan, niscaya engkau akan mengatakan kepadaku”. “Kamu (Rasulullah) dalang kepada kami dalam keadaan didustakan, maka kamilah yang membenarkan. Kamu datang kepada kami dalam keadaan miskin, maka kami lapangkan engkau”. “Memang. . . . jika engkau mengatakan demikian, perkataanmu itu benar, dan saya pun membenarkannya”.

“Tetapi, wahai kaum Anshar! Apakah engkau merasa kecewa hanya lantaran bagianmu sedikit? Sementara mereka mendapatkan banyak demi keislamannya? Apakah engkau tidak rela, wahai kaum Anshar, bila mereka pulang (ke Makkah) membawa kambing-kambing, unta-unta dan harta benda yang banyak,sementara kamu pulang (ke Madinah) membawa Rasulullah? Demi Dzat Yang diri Muhammad berada di tangan-Nya, bahwa engkau pulang dengan membawa Rasul-Nya lebih baik daripada apa yang mereka bawa pulang. Seandainya bukan karena hijrah, niscaya aku menjadi orang Anshar. Seandainya manusia menempuh suatu jalan di gunung dan lembah, sementara orang Anshar juga menempuh suatu jalan di gunung dan lembah, niscaya aku menempuh jalan yang dilalui kaum Anshar. Orang Anshar adalah kulit, sedangkan orang yang lain adalah pakaiannya. Ya Allah. . . berilah rahmat terhadap orang-orang Anshar, anak-anak orang Anshar, anak-anak dari anak-anak orang Anshar”.

Mendengar pidato Rasulullah yang mengharukan itu, serentak meledaklah tangis, orang-orang Anshar merasa terharu. Mereka tak kuasa membendung air matanya yang tiba-tiba bobol. Begitu kuatnya bobolan itu sampai basahlah janggut-janggut mereka kebanjiran air mata. Setelah sedikit lapang, berkatalah orang-orang Anshar: “Sekarang, wahai Rasulullah, kami rela kepada Allah dan Rasul-Nya atas pembagian itu”.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: