jump to navigation

John L. Esposito, Barat Bertanya: Apakah Yahudi dan Kristen itu musuh Islam? 3 Agustus 2010

Posted by yopie noor in Muslim Dunia.
Tags: , , , , ,
trackback

oleh: John L. Esposito.

Hubungan Yahudi dan Kristen terhadap Islam seperti hubungan agama Kristen dengan agama Yahudi, adalah hubungan yang panjang dan kompleks, terkondisi oleh realitas sejarah dan politik juga doktrin agama. Suku-suku Yahudi dan Kristen hidup di Arab pada waktu Nabi Muhammad. Yahudi dan Kristen adalah anggota atau warga komunitas Muslim awal di Madinah.

Pada tahun-tahun awalnya, Nabi Muhammad memandang Yahudi dan Kristen sebagai “Ahli Kitab”, yang juga menerima pesan kenabian dan menjadi sekutu alaminya. Al-Qur’an sendiri memperkuat pengiriman Nabi-nabi dan wahyu kepada Yahudi dan Kristen dan mengakui mereka sebagai bagian dari sejarah Muslim: “Ingatlah, kami telah memberi Musa sebuah Kitab dan mengirimnya seorang Rasul; dan pada Isa anak Maryam, Kami berikan bukti yang jelas tentang kebenaran, memperkuatnya dengan keagungan ke-Tuhan-an”, (al-Qur’an 23: 49-50; lihat juga 5: 44-46; 32: 23: 40: 53).

Muhammad pada awalnya menyatakan dirinya sendiri sebagai pembaharu kenabian, menetapkan kembali agama Ibrahim. Contohnya, seperti halnya Yahudi, Muslim pada awalnya mengadap Yerusalem selama shalat dan berpuasa pada hari ke sepuluh kalender bulan. Muhammad melakukan hal khusus dengan mengajak suku-suku Yahudi di Madinah. Tetapi, Yahudi Madinah memiliki kaitan politik pada suku Quraisy di Mekkah, jadi mereka menolak tawaran Nabi Muhammad. Segera setelah itu, Nabi Muhammad menerima wahyu yang mengubah arah shalat dari Yerusalem ke Mekkah, menandai Islam sebagai alternatif berbeda dari agama Yahudi.

Ketika Nabi Muhammad mengkonsolidasi kontrol militer dan politiknya atas Madinah, beliau mendeklarasikan dan menyebarkan dokumen secara umum disebut sebagai Konstitusi Madinah (622-624 M), yang mengatur kehidupan sosial dan politik. Konstitusi tersebut menyatakan bahwa orang-orang beriman merupakan satu komunitas tunggal atau Ummah, yang bertanggung-jawab secara kolektif untuk memperkuat tatanan dan keamanan sosial dan untuk melawan musuh pada waktu perang dan damai. Suku-suku tetap bertanggung-jawab terhadap tindakan anggota individu mereka, dan suatu preseden yang jelas telah ditetapkan untuk memasukkan agama lain sebagai bagian dari komunitas yang lebih luas dipimpin oleh Muslim. Populasi Yahudi dijamin hak-haknya untuk otonomi budaya dan internal agamanya, termasuk hak untuk melakukan hukum agama Yahudi, sebagai ganti dari loyalitas politik dan kepatuhan kepada Muslim.

Muslim menyebut Konstitusi Madinah sebagai bukti dari pesan yang melekat dalam Islam tentang saling hidup bersama dengan damai, kebolehan pluralisme agama di daerah di bawah pemerintahan Muslim, dan hak non Muslim menjadi anggota dan berpartisipasi dalam komunitas Muslim yang lebih luas. Tetapi hubungan antara komunitas Muslim awal dan beberapa suku Yahudi menjadi tegang, ketika Yahudi mendukung lawan Muhammad dari Mekkah. Diputuskan sebagai pengkhianat karena dukungan mereka kepada musuh Islam, banyak yang diserang dan dibunuh. Konfrontasi ini menjadi bagian dari kantong sejarah dan akan terus mempengaruhi sikap beberapa Muslim pada abad selanjutnya. Baru-baru saja warisan ini dapat dilihat dalam pernyataan resmi dari Hamas dan Osama bin Laden. Keduanya tidak hanya mengutuk Yahudi karena pendudukan Israel dan kebijakan di Palestina, tetapi juga melihat konflik sekarang sebagai pengulangan terbaru dari konflik berusia tua, kembali pada “penolakan dan pengkhianatan” Yahudi pada Islam dan komunitas Nabi di Madinah.

Meskipun demikian, banyak komunitas di berbagai masa dalam sejarah, Yahudi menemukan rumah/ asal dimana, sebagai ahli kitab atau dzimmi, mereka hidup, bekerja dan sering berjuang keras. Komunitas Yahudi bersemangat ada di negara-negara Muslim, seperti Mesir, Turki dan Iran. Dan ketika pemerintah Katolik Ferdinand dan Isabela mengusir Yahudi keluar dari Spanyol, banyak yang mengungsi ke Afrika Utara dan Kesultanan Ottoman. Pendirian negara Israel adalah titik balik dalam hubungan antara Muslim dan Yahudi. Masuknya politik dari perjuangan antara orang Palestina dan Zionisme memperparah ketegangan hubungan Yahudi-Muslim di negara-negara Muslim. Akibatnya, mayoritas Yahudi beremigrasi atau lari ke Israel dan bagian lain dunia.

Hubungan Kristen dan Muslim bahkan lebih rumit. Meskipun memiliki akar teologi bersama, Islam dan Kristen berada dalam perdebatan sejak awal. Islam menawarkan agama-agama dan visi politik alternatif. Seperti halnya Kristen melihat keimanan mereka sebagai pengganti perjanjian Yahudi dengan Tuhan, Islam sekarang menyatakan bahwa Tuhan telah membuat perjanjian baru, mewahyukan kata-katanya terakhir dan lengkap kepada Nabi Muhammad, “penutup” atau Nabi terakhir Islam, seperti agama Kristen, menyatakan pesan dan misi universal dan karenanya menantang klaim agama Kristen. Selanjutnya, penyebaran yang luar biasa dari Islam, dengan penaklukannya ke sayap timur kerajaan Romawi (Bizantium), menantang kekuatan dan hegemoni politik dunia Kristen.

Sejarah agama Kristen dan Islam menjadi satu dari konflik dan saling berada bersama. Ketika Muslim menaklukkan Bizantium, mereka diterima dengan baik oleh beberapa sekte dan kelompok Kristen, yang dituduh sebagai bid’ah oleh agama Kristen “resmi”, yaitu Katolik. Banyak orang Kristen yang menerima pemerintahan Islam yang memberi mereka kebebasan lebih banyak untuk mempraktekkan keyakinannya dan membebankan pajak yang lebih ringan. Meskipun awalnya takut, penakluk Muslim terbukti jauh lebih toleran daripada kerajaan Kristen, memberi kebebasan agama pada gereja Kristen pribumi dan Yahudi.

Semangat ini selanjutnya tercermin dalam kecenderungan kekuasaan Islam awal untuk menggabungkan unsur yang paling maju dari peradaban sekelilingnya, termasuk Bizantium dan kerajaan Sasanid Persia dan praktek administrasi serta ilmu Helenik (terkait dengan Yunani), arsitektur, seni, kedokteran dan filsafat. Orang Kristen seperti John dari Damaskus memegang posisi terkenal di pengadilan kerajaan. Orang-orang Kristen dan Yahudi membantu pemerintah Muslim dengan mengumpulkan penerjemah banyak buku-buku sains, kedokteran, dan filsafat dari Timur dan Barat.

Tetapi perluasan yang cepat dari Islam juga mengancam Eropa Kristen, ketika Muslim tampak siap untuk menyapu seluruh Eropa, sampai akhirnya di pukul balik oleh Charles Martel di Perancis Selatan tahun 732. Perang Salib, Inkuisisi, dan Kolonialisme Eropa mewakili periode utama dari konfrontasi dan konflik seperti kebangkitan dan perluasan dari Kesultanan Ottoman ke Eropa.

Contoh yang paling sering di kutip dari toleransi antar agama dalam sejarah pemerintahan Muslim di Spanyol (al-Andalusia) dari tahun 756 sampai kira-kira 1000 M, yang biasanya diidealkan sebagai periode harmoni antar agama dan convivencia (hidup bersama). Pemerintahan Muslim Spanyol menawarkan penduduk Kristen dan Yahudi mencari tempat pengungsian dari sistem kelas Eropa, kesempatan untuk menjadi pemilik tanah kecil yang makmur. Orang Kristen dan Yahudi menempati posisi menonjol di pengadilan Khalifah pada abad X, bekerja sebagai penerjemah, insinyur, dokter dan arsitek. Uskup Besar dari Seville melakukan penerjemahan tambahan penjelasan Injil untuk komunitas Kristen berbahasa Arab.

Sejarah Islam juga berisi contoh-contoh positif perdebatan dan dialog antar keimanan, mulai pada waktu Nabi Muhammad. Nabi Muhammad sendiri terlibat dalam dialog dengan Kristen di Najran, menghasilkan hubungan yang disepakati secara bersama dimana orang Kristen dibolehkan bersembahyang di masjid Nabawi. Khalifah Sunni kelima, Muawiyah secara teratur mengirim undangan untuk Kristen Jacobit dan Manorit untuk datang ke pengadilan kerajaan, mendiskusikan perbedaan mereka. Perbedaan melibatkan Muslim dan Yahudi terjadi di pengadilan Muslim Spanyol, dan diskusi teologi antar agama abad XVI antara pendeta Katolik dan ulama Muslim dipimpin oleh Akbar Sultan Mughal. Perdebadan ini tidak selalu dilakukan antara “kesamaan-kesamaan” (tentu saja, banyak yang berpegang secara tepat untuk “membuktikan” bahwa agama lain “salah” seperti juga halnya dengan dialog yang diawali oleh orang Kristen). Tetapi, fakta bahwa perdebatan tersebut dibolehkan dan didukung, menunjukkan beberapa tingkat pertukaran teratur antara keimanan/ agama, tahapan yang berarti dari prestasi kultural dan pendidikan di dunia Muslim.

Selama perang Salib, berbeda dengan konflik mereka, Muslim mentoleransi praktek agama Kristen – contohnya yang tidak dapat disamai oleh pihak lainnya, di abad XIII, beberapa perjanjian antara Kristen dan Muslim memberi akses bebas orang Kristen pada tempat-tempat suci yang pada waktu itu diduduki kembali oleh Islam. Saint Kristen Besar, Francis Assisi menemui sepupu Shalahuddin, Sultan al-Malik al-Kamil di tahun 1219. Sultan tersebut memberi kebebasan beribadah kepada lebih dari tiga puluh ribu tahanan Kristen-nya ketika permusuhan berhenti, juga menawarkan mereka pilihan untuk kembali ke negara mereka atau berperang di angkatan bersenjatanya. Selanjutnya, Muslim menjaga kebijakan pintu terbuka pada Yahudi yang melarikan diri dari penyiksaan Eropa Kristen selama inkuisisi.

Kesultanan Ottoman adalah contoh utama perlakuan positif pada minoritas agama dalam konteks mayoritas Muslim. Ottoman secara resmi mengakui empat komunitas berbasis agama, dikenal sebagai millet: Ortodoks Yunani, Gregorian Armenia, Muslim dan Yahudi. Di bawah sistem millet, Islam mengambil posisi utama, tetapi tiap millet lainnya ditempatkan di bawah otoritas hukum agamanya sendiri. Sistem millet memungkinkan kesultanan menampung keragaman agama, menempatkan non Muslim dalam posisi subordinat terhadap Muslim dan menawarkan mereka status perlindungan. Anggota agama minoritas memiliki hak untuk memegang posisi pemerintahan dalam beberapa kasus. Jadi, bentuk terbatas dari pluralisme agama dan toleransi adalah komponen penting dari kenegaraan Ottoman.

Di era kontemporer, pluralisme agama dan politik menjadi persoalan penting di dunia Muslim. Banyak yang berusaha mendirikan Islam di dunia Muslim melihat pendahuluan sejarah untuk menentukan status non Muslim. Meskipun banyak yang mengundang untuk memulihkan secara ketat dari gradasi kewarganegaraan yang menyertai status dzimmi di masa lalu, yang lain mengakui bahwa pendekatan ini tidak cocok dengan kenyataan pluralistik di dunia kontemporer dan standar hak asasi manusia internasional.

Mereka membela gradasi kewarganegaraan menurut afiliasi, agama percaya bahwa suatu negara Islam didefinisikan sebagai negara dimana hukum Islam adalah hukum tanah tersebut, harus dijalankan oleh Muslim, karena hanya Muslim yang dapat menginterpretasi hukum Islam. Ini telah menjadi program Islamisasi di Pakistan, Sudan, Afghanistan dan Iran, yang mengesahkan bahwa hanya Muslim yang memiliki hak untuk memegang jabatan pemerintahan senior. Jelasnya hal ini tidak memuaskan bagi non Muslim yang ingin menikmati hak-hak kewarga-negaraan penuh dan sama. Minoritas agama pada kenyataannya dianiaya dan menjadi subyek diskriminasi di bawah beberapa pemerintahan Muslim, seperti Afghanistan Taliban, Pakistan dan Sudan. Jadi, banyak pembaharu yang tidak setuju dengan penerapan tradisi klasik pada masa modern ini berkeras bahwa non Muslim diberikan hak kewarga-negaraan secara penuh

Pembela reformasi mempertahankan pluralisme sebagai esensi Islam, seperti diwahyukan dalam al-Qur’an dan dipraktekkan oleh Nabi Muhammad dan Khalifah-khalifah awal, bukan temuan atau ideologi Barat murni. Mereka menunjuk pada Kesultanan Islam yang membolehkan kebebasan beragama dan beribadah dan melindungi kaum dzimmi sebagai bukti kebolehan dan legalitas pluralisme. Meskipun banyak Muslim tradisional atau konservatif utama dan militan membela dzimmi Islam klasik atau sistem millet, para pembaharu meminta tafsir ulang atau pemahaman ulang pluralisme. Mengakui kebutuhan untuk membuka sistem politik otoriter dan satu partai yang merata di dunia Muslim, banyak Islamis aliran utama (dibedakan dari ekstremis) juga mulai menerapkan kata pluralisme pada proses politik. Sejak 1990, istilah tersebut telah dipakai untuk membenarkan sistem multi partai, juga bentuk modern dari pluralisme dan toleransi agama.

Sumber: What Everyone Needs to Know About islam.
John L. Esposito.

Komentar»

1. World of Islam » Blog Archive » What Everyone Needs to Know about Islam - 5 Agustus 2010

[…] John L. Esposito, Barat Bertanya: Apakah Yahudi dan Kristen itu … […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: