jump to navigation

Konsisten 1 Bulan Ramadhan = Pahala 83 Tahun 6 Agustus 2010

Posted by yopie noor in Fiqih.
Tags: , , , ,
trackback

(persis.or.id)

Ceceng Rucita
(Ketua Pemuda Persis Bekasi)

“Wahai orang-orang yang beriman telah diwajibkan kepada kalian berpuasa, sebagaimana juga telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian supaya kalian menjadi orang-orang yang bertakwa.” (Q.S. Al-Baqarah/2: 183)

Suatu ketika direktur perusahaan di tempat Anda bekerja memanggil Anda ke kantornya. Ia memberitahukan bahwa berkat prestasi kerja Anda selama ini, Anda akan dipromosikan untuk menduduki jabatan yang prestisius. Namun dengan satu syarat, pekan depan Anda harus mengikuti seleksi kerja satu bulan penuh.

Seleksi yang setelah Anda tanyakan ternyata relatif ringan bahkan dengan bonus yang menggiurkan. Bagaimana tidak hanya dengan melakukan kerja yang standar Anda akan dapat bonus 10 kali lipat bahkan sampai 700 kali lipat. Ternyata itu belum seberapa, Anda pun dijanjikan jika berhasil melewati seleksi tahap akhir dengan predikat sangat memuaskan maka Anda akan diberikan jaminan kebutuhan hidup selama 83 tahun lebih. Wow! Sangat menggiurkan.

Kiranya sudah mulai pahamkah Anda akan saya bawa ke mana arah cerita ini? Tentu sebagai Muslim yang cerdas Anda akan sontak menjawab “Inilah Ramadhan yang akan kita jumpai tidak lama lagi.” Ya, inilah Ramadhan. Bulan yang selain gaji tetap, akan didapatkan juga bonus 10 hingga 700 kali lipat bahkan bisa jauh lebih besar daripada itu. Bahkan, jika prestasi seleksi amalan di bulan ini konsisten sampai akhir, maka bonus pahala 1.000 bulan (83 tahun lebih) bisa anda raih.

Bulan yang telah Allah informasikan kepada Anda 1500 tahun yang lalu, tidak seperti direktur Anda yang memberikan informasi hanya sepekan sebelum hari H. Jelas sekali persiapan dan perbekalan Anda akan jauh lebih paripurna. Aneh nian, jika Anda masih ragu dan gagap saat Ramadhan tiba padahal Anda punya waktu 11 bulan untuk bersiap-siap menyambutnya. Bahkan, Anda sudah mengetahuinya sepanjang hayat Anda.

Lihatlah para shahabat Rasulullah SAW, manusia-manusia langit itu luar biasa gembira menyambut Ramadhan dan luar biasa pilu ditinggal Ramadhan. Mereka berharap setahun itu bulannya adalah Ramadhan semua. Layaknya Anda yang begitu meluap kegembiraan saat bulan seleksi itu tiba menghampiri Anda. Kegairahan memuncak untuk menelusuri satu ibadah yang Allah berkenan memberikan pahala melimpah-ruah secara langsung.

Allah menyeleksi manusia, kira-kira manusia macam apakah yang akan sanggup melaksanakan aturannya yang ini. Ternyata Allah mengatakan “Wahai orang-orang yang beriman”, duhai berbahagialah orang yang beriman kepada Allah kerena mereka lulus seleksi, yang bukan hanya mengaku Islam, karena predikat Muslim saja tidak cukup layak mengikuti lomba superhebat di bulan Ramadhan. Mereka tidak akan mampu, akan kepayahan.Mereka, yang hanya Islam saja, sebagaimana sudah Rasulullah ingatkan “Betapa banyak orang yang shaum namun tidak mendapatkan apa-apa dari shaumnya kecuali rasa lapar dan dahaga.”

Mereka tidak tahan untuk tidak makan minum, tidak tahan untuk konsisten shalat tarawih, tidak tahan berlama-lama membaca Alquran, tidak tahan untuk tidak mencaci orang lain, tidak tahan berbaik sangka kepada orang lain, tidak tahan untuk membatasi apa yang dia makan saat berbuka dan tidak tahan untuk tidak berhura-hura saat malam ‘Idul Fitri, padahal itu berpotensi menghapus seluruh pahala Ramadhan yang susah payah ia kumpulkan.

Memang nyata, kita belum seperti para sahabat Rasulullah SAW, mungkin Anda atau saya bahkan merasa biasa-biasa saja dengan datangnya Ramadhan. Atau yang lebih celaka, justru khawatir dan takut menjalani Ramadhan. Na’udzubillah. Yang menyambut gembira Ramadhan adalah orang beriman, yang menyambut dengan ekspresi datar agak berat mungkin fasik, yang malah takut dan khawatir bisa jadi munafik atau bahkan kufur.

Baiklah, ternyata bagi yang merasa berat, Allah telah sebutkan bahwa kewajiban shaum itu “telah diwajibkan juga kepada orang-orang sebelum kalian”, kalau umat-umat terdahulu saja sudah diwajibkan shaum lalu kenapa kita harus merasa berat seolah-olah hanya kita yang diberikan ‘beban’. Maka, bagi siapa saja yang merasa terbebani oleh kewajiban shaum, sungguh ia hanya sekadar menggugurkan kewajiban tanpa mendapatkan saripati dari ibadahnya sedikit pun. Sia-sia Orang yang beriman dan bersabar tanpa terbebani akan dengan mudah mendapatkan saripati ibadah shaum Ramadhan sebagaimana target shaum itu sendiri, yakni “supaya kalian menjadi orang-orang yang bertakwa,” kata Allah. Takwalah puncak prestasi keimanan tertinggi, yang Allah tegaskan bahwa insan paling mulia di sisi-Nya adalah insan yang bertakwa.

Takwa adalah konsistensi iman dan amal shaleh. Seorang shahabat bertanya kepada Rasulullah “nasihatilah aku yang tidak akan aku minta lagi kepada orang lain”. Rasul menjawab, “katakanlah: aku beriman kepada Allah, lalu konsistenlah kamu dalam keimanan itu”. Iman plus konsistensi adalah takwa. Maka, ciri orang yang sukses meraih predikat takwa dari ibadah Ramadhan adalah konsistensi ibadahnya di bulan-bulan lain sama seperti yang dilakukannya di bulan Ramadhan.

Shaum Ramadhan adalah start bukan final, adalah awal bukan akhir dari perjalanan ibadah sepanjang hayat kita. Maka, tidak ada hari kemenangan bagi yang melaksanakan ibadah Ramadhan dengan biasa-biasa saja, yang asalkan tidak makan, minum, dan bersenggama. Sementara hewan pun jika hanya sekadar itu mampu melakukannya.

Shaum Ramadhan adalah ibadah yang berfungsi sebagai charger untuk on-nya ibadah di 11 bulan berikutnya. Adalah mengerikan, orang berduyun-duyun di akhir Ramadhan merayakan hari kemenangan, sementara mereka sudah tidak lagi berpuasa. Kembali ke kulit palsunya yang mereka tahu bahwa itu palsu. Memang benar, orang paling bodoh adalah orang yang tahu bahwa dirinya tidak tahu namun sok tahu seolah-olah dirinya tahu. Benarlah, hanya yang beriman dan bersabar (ihtisaban) dalam ibadah Ramadhanlah yang akan diampuni dosa masa lalunya.

Kemenangan sebenarnya dari Ramadhan ditentukan oleh 11 bulan berikutnya. Tarawihnya di bulan Ramadhan berlanjutkah dalam tahajud di bulan berikutnya, tilawah Qurannya di bulan Ramadhan berlanjutkah di bulan berikutnya, zakatnya di bulan Ramadhan berlanjutkah di bulan berikutnya, dermawan dan pemaafnya di bulan Ramadhan berlanjutkah atau kembali menjadi bakhil dan pemberang selepas bulan itu? Allahumma sallimnaa Ramadhan, wa sallim Ramadhana lanaa mutaqabbalan

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: