jump to navigation

Dewan Hisbah PP. Persis Tentang Hukum Sukuk/ Obligasi Syariah 13 Agustus 2010

Posted by yopie noor in umum.
Tags: , , , , ,
trackback
DEWAN HISBAH PERSATUAN ISLAM

Pada Sidang Dewan Hisbah Penyerta Muktamar XIV
Di PC Persis Soreang,
7 Agustus 2010 M
26 Sya’ban 1431 H

Tentang:

“SUKUK/OBLIGASI SYARIAH”

بسم الله الرحمن الرحيم

Dewan Hisbah Persatuan Islam setelah:

MENGINGAT:

1. Firman Allah:

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لاَ يَقُومُونَ إِلاَّ كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللهِ وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ. البقرة : 275.

Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (Q.s. Al-Baqarah: 275).
‎‎

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَوْفُوا‎ بِالْعُقُودِ…. المائدة :

Hai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad itu. (Q.s. Al-Maidah: 1).

2. Hadis-hadis Nabi Saw:

عَنْ كَثِيرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ عَوْفٍ الْمُزَنِىُّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ رَسُولَ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ: اَلصُّلْحُ جَائِزٌ بَيْنَ الْمُسْلِمِينَ إِلاَّ صُلْحًا حَرَّمَ حَلاَلاً أَوْ أَحَلَّ حَرَامًا وَالْمُسْلِمُونَ عَلَى شُرُوطِهِمْ إِلاَّ شَرْطًا حَرَّمَ حَلاَلاً أَوْ أَحَلَّ حَرَامًا

Dari Katsir bin Abdullah bin Amr bin Auf Al-Muzani dari ayahnya dari kakeknya, bahwa Rasulullah saw. bersabda, ‘Perjanjian boleh dilakukan di antara kaum muslimin, kecuali perjanjian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram, dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka, kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram.” (H.r. Musnad Ahmad, II: 306, At-Tirmidzi, III: 634. Abu Daud, II: 304, Ibnu Majah, II: 788).

عَنْ عَلْقَمَةَ عَنْ عَبْدِ اللهِ قَالَ لَعَنَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آكِلَ الرِّبَا وَمُؤْكِلَهُ قَالَ قُلْتُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ قَالَ إِنَّمَا نُحَدِّثُ بِمَا سَمِعْنَا

Dari Alqamah dari Abdulah, ia berkata, “Rasulullah saw. melaknat pemakan riba dan yang memberi makannya, beliau bersabda, ‘Aku katakan, ‘Pencatatnya, dan dua saksi.’ Ia berkata lagi,’Kami menceritakan hanya yang kami telah mendengarnya.'” (H.r. Muslim, III: 1218).

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّهُ قَالَ لِمَرْوَانَ أَحْلَلْتَ بَيْعَ الرِّبَا. فَقَالَ مَرْوَانُ مَا فَعَلْتُ. فَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ أَحْلَلْتَ بَيْعَ الصِّكَاكِ وَقَدْ نَهَى رَسُولُ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ بَيْعِ الطَّعَامِ حَتَّى يُسْتَوْفَى. قَالَ فَخَطَبَ مَرْوَانُ النَّاسَ فَنَهَى عَنْ بَيْعِهَا. قَالَ سُلَيْمَانُ فَنَظَرْتُ إِلَى حَرَسٍ يَأْخُذُونَهَا مِنْ أَيْدِى النَّاسِ. (صحيح مسلم – عبد الباقي – 3 / 1162: السنن الكبرى للبيهقي وفي ذيله الجوهر النقي – 6 / 31 :مسند أحمد – الرسالة – (14 / 101. رقم 8365)

Dari Abu Hurairah bahwasanya ia berkata kepada Marwan; ‘Apakah engkau telah menghalalkan riba? Marwan menjawab, ‘Aku tidak melakukannya.’ Berkata Abu Hurairah, ‘Engkau telah halalkan sukuk padahal Rasulullah saw. telah melarang menjual makanan sehingga dimiliki. Kemudian Marwan berkhutbah dan melarang menjualnya.’ Sulaiman berkata, ‘Maka aku melihat penjaga mengambilnya kembali dari tangan orang-orang.” (Shahih Muslim –Abdul Baqi-, III: 1162, As-Sunanul Kubra Al-Baihaqi, dan dalam Dzail Jauhari An-Naqi, VI: 31, Musnad Ahmad, -Ar-Risalah- XIV: 101. No 8365).

أَنَّ ابْنَ عُمَرَ وَزَيْدَ بْنَ ثَابِتٍ كَانَا لاَ يَرَيَانِ بَأْسًا بِشِرَاء الرَّزْقِ إذَا خَرَجَت الْقُطُوطُ ، وَهِيَ : الصِّكَاكُ ، وَيَقُولُونَ : لاَ تَبِعْهُ حَتَّى تَقْبِضَهُ.

Sesungguhnya Ibnu Umar dan Zaid bin Tsabit kedua tidak memandang apa-apa menjual makanan (yang belum dipegang atau dikuasainya) jika sudah berupa Qathut yaitu sukuk dan mereka mengatakan, ‘Janganlah menjualnya sampai kau memilikinya.”

عَنْ نَافِعٍ ، قَالَ : نُبِّئْت ، أَنَّ حَكِيمَ بْنَ حِزَامٍ كَانَ يَشْتَرِي صِكاك الرَّزْقِ ، فَنَهَى عُمَرُ أَنْ يَبِيعَ حَتَّى يَقْبِضَ. (مصنف ابن أبي شيبة – ترقيم عوامة – 6 / 294. باب – فِي بيعِ صكّاكِ الرَّزق ِرقم:21478-21477)

Dari Nafi, ia mengatakan, ‘Diberitakan kepadaku bahwa Hakim bin Hizam ia membeli sukuk makanan lalu Umar melarang menjual sehingga ia memilikinya.” (Mushanaf Ibnu Abu Syaibah, VI: 294, Bab Fi bai’i shakkak ar-Razqi. No. 21477-21478).

MENDENGAR:

1. Sambutan dan pengarahan dari Ketua Dewan Hisbah K.H. Usman Shalehuddin

2. Sambutan dan pengantar dari Ketua Umum PP Persis K.H. Prof. Dr. Maman Abdurrahman. MA

3. Makalah dan pembahasan yang disampaikan oleh:.
1. Dr. A. Hasan Ridwan.
2. K.H. Jeje Zaenudin M.Ag.
3. Pembahasan dan penilaian dari anggota Dewan Hisbah terhadap masalah tersebut di atas
.

MENIMBANG:

1. Larangan Islam tentang segala bentuk transaksi barang dan atau jasa yang mengandung unsur Riba, Maisir, Jahalah, Gharar, dan Ghasy.

2. Maslahat dan mafsadat dari diterbitkannya Sukuk/obligasi syari’ah

3. Belum adanya kesepakatan pendapat mengenai hukum sukuk/obligasi syari’ah terutama dalam tatanan aplikatif.

4. Perlu adanya kejelasan dan ketegasan status hukum tentang sukuk/obligasi syariah.

5. Praktek sukuk yang ada pada saat ini masih belum memenuhi pensayaratan Mudharabah, musyarakah, murabahah, ijarah,dan istishna secara syar’i.

6. Negara wajib memelihara kemaslahatan umat terutama menyangkut aset umat Islam.

7. Perlu adanya solusi dengan sukuk atau lainnya yang sesuai dengan syariat.

Dengan demikian Dewan Hisbah Persatuan Islam

MENGISTINBATH:

1. Obligasi konvensional hukumnya haram

2. Sukuk/obligasi syariah pada saat ini masih mengandung unsur-unsur keraguan.

3. Untuk kemaslahatan umat sukuk dapat dipertimbangkan sebagai solusi alternatif.

Demikian keputusan Dewan Hisbah mengenai masalah tersebut dengan makalah terlampir.

الله يأخذ بأيدينا الى ما فيه خير للإسلام و المسلمين‎


Bandung, 7 Agustus 2010 M
26 Sya’ban 1431 H

DEWAN HISBAH PERSATUAN ISLAM

Ketua Sekretaris
K.H. USMAN SHALEHUDDIN
K.H. WAWAN SHOFWAN Sh
NIAT: 05536 NIAT: 30400

(persis.or.id)

Komentar»

1. LILI RUSLI - 26 Oktober 2010

BAGAI MANA HUKUMNYA SETELAH BAYAR HUTANG MENAMBAH UANG SEBAGAI TANDA TERIMA KASIH?

al-Bandari - 29 Oktober 2010

Terima kasih.
Kalau dalam perjanjian tidak ada tercantum ketentuan untuk memberi tambahan itu, sebaiknya taat saja pada ketentuan itu. Tapi pada dasarnya tidak apa-apa.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: