jump to navigation

Hukum Sebenarnya Perempuan Shalat Jum’ah 1 September 2010

Posted by yopie noor in Fiqih.
Tags: , , , ,
trackback

ramadan flash card

Ramadan flash card

Soal:
Memang perempuan tak wajib ber-Jum’ah. Tetapi kalau perempuan ber-Jum’ah, sunnahkah atau bid’ahkah? Harap keterangan.

Jawab:
Perempuan tidak diwajibkan ber-Jum’ah sudah kita ketahui keterangannya.

Sesuatu yang tidak wajib itu, ada yang “tidak wajibnya” itu berdiri sendiri dan ada yang “tidak wajibnya” itu karena pengecualian dari sesuatu yang asalnya “wajib”.

“Yang tidak wajib berdiri sendiri” itu, seperti: puasa Senin – Kamis, shalat Tarawih, shalat Hari Raya dan lain-lain sebagainya. “Yang tidak wajib berdiri sendiri” ini biasa diistilahkan dengan kata-kata “sunnah”, yang berarti kalau orang mengerjakannya mendapat ganjaran; kalau tidak, tak ada dosa.

Kita katakan puasa Senin – Kamis itu sunnah karena ada perintahnya. Perintah ini asalnya mempunyai hukum wajib. Tetapi, karena ada Hadits Nabi yang menentukan bahwa puasa wajib itu hanya puasa Ramadhan, dan bahwa shalat yang wajib itu ialah shalat yang lima kali sehari semalam, maka hukum puasa Senin – Kamis dan beberapa macam shalat, kita katakan “sunnah”.

Adapun tentang perempuan shalat Jum’ah itu, ada lain kedudukannya. Begini: Shalat Jum’ah itu asalnya “wajib” untuk sekalian Muslim laki-laki dan perempuan. Lalu dikecualikan perempuan, yakni perempuan tidak wajib shalat Jum’ah. “Tidak wajib” ini, karena ada perhubungan dengan yang asalnya wajib, berarti perempuan diberi pilihan antara “mengerjakan” dan “tidak mengerjakan”. Shalat Jum’ah yang demikian ini bukan sunnah tetapi dapat dimasukkan bagian “wajib mukhaiyar”, yakni hukumnya wajib tetapi boleh memilih satu dari dua, yaitu “shalat Jum’ah” atau “tidak shalat Jum’ah”. Maka kalau seorang perempuan shalat Jum’ah, berarti ia telah melakukan “kewajiban”. Jadi si perempuan bukan melakukan sesuatu yang sunnah.

Sesudah kita mengetahui bahwa perempuan boleh memilih antara “mengerjakan shalat Jum’ah” dan “tidak mengerjakan”, lalu kalau ia shalat Jum’ah, tidaklah dapat dikatakan ia berbuat bid’ah bahkan ia telah melaksanakan suatu kewajiban.

al-Ustadz Abdul Qadir H.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: