jump to navigation

Jumlah Binatang Yang Haram Dimakan 3 September 2010

Posted by yopie noor in Fiqih.
Tags: , , , ,
trackback

ramadan flash card

Ramadan flash card

Soal:
Dalam tafsir Mahmud Yunus ada kalimat: “Nabi pernah mengharamkan dan menambah hukum-hukum haram. Diharamkan memakan daging-daging binatang buas. Ujar, harimau”. Apakah kalimat itu boleh diturut, padahal Allah saja yang berhak mengharamkan?

Jawab:
Nabi memang pernah mengharamkan dan menambah-nambah hukum haram, tetapi semua yang Nabi haramkan dan semua yang beliau tambah itu adalah dalam perkara-perkara yang tidak dibatas oleh Allah. Perbuatan Nabi ini semua dengan pimpinan Allah juga, sebab Agama adalah dari Allah semata-mata.

Rasulullah tidak akan berani mengharamkan atau menambah sesuatu hukum jika tidak dibenarkan oleh Allah yang mengutus beliau. Begitulah kepercayaan kita.

Tetapi dalam hal binatang-binatang yang haram, ada lain kedudukannya. Dalam Qur’an, Allah berfirman:

انماحرم عليكم الميتة والدم ولحم الخنزير ومااهل لغيرالله به‎‎‎‎


Artinya: Yang Allah haramkan atas kamu hanya bangkai, darah, daging babi dan apa-apa yang disembelih kerena yang lain dari Allah. (al-Baqarah 173).

Kata-kata انما‎ yang ada di Ayat tersebut artinya “hanya”. Kata-kata ini dalam bahasa Arab digunakan untuk membatas sesuatu.

Maka dengan demikian, yang diharamkan oleh Allah hanya terbatas pada empat macam itu saja.

Ayat yang semakna dengan ini ada juga tersebut di Surah al-An’am 146.

Maka kalau kita katakan Nabi saw “mengharamkan” yang lain lagi, berarti Nabi menentang firman Allah yang telah membatas tadi. Ini suatu mustahil, seorang Nabi tidak akan lancang menentang firman Allah yang mengutusnya.

Oleh karena itu, sabda Nabi saw yang kelihatannya menambah dari hukum yang sudah dibatas oleh Allah, harus kita dudukkan sehingga tidak bertentangan.

Umpamanya sabda Rasulullah saw berikut:

كل ذي ناب من السباع فأكله حرام‎‎


Artinya: Tiap-tiap binatang yang bersiung (bertaring) dari binatang buas itu, haram dimakan. (HR. Muslim).

Lafadz Hadits menyebut “haram”. Kalau kata-kata “haram” ini kita pakai dengan arti istilah yang biasa, terang Hadits tersebut menentang firman Allah di al-Baqarah 173.

Oleh karena itu, kata-kata “haram” disini kita maknakan dengan “larangan” atau “cegahan”, sedang “larangan” ada yang bermakna “makruh”. Jadi makruh makan binatang buas yang bersiung, bukan haram. Begitulah yang lain-lainnya.

Oleh: al-Ustadz Abdul Qadir H.

Komentar»

1. MENONE - 3 September 2010

weeeeeeeeeeeehheheheheheheh jadi inget pelajaran wkt scl nich hehehehehe…………………..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: