jump to navigation

Hukum Mengatapi Kuburan dan Bangunan Pada Kuburan Nabi saw 28 September 2010

Posted by yopie noor in Fiqih.
Tags: , , , ,
trackback

Hukum Mengatapi Kuburan

Soal:
Bolehkah mentegel, mengubin atau memberi atap atas kuburan?

Jawab:
Tentang masalah tersebut, ada diriwayatkan seperti dibawah ini:

قال جابرنهى رسول الله ص ان يبنى على القبرا ويزادعليه

Artinya: Kata Jabir: Rasulullah saw telah melarang didirikan sesuatu di atas kubur atau ditambah atasnya (HSR. Nasa’ie).

قال علي لابي الهياج الاسدي ‏:‏ ابعثك على مابعثني رسول الله ص ان لاتدع تمثالا الاطمسته ولاقبرا مشرفا الاسويته

Artinya: Telah berkata ‘Ali kepada Abul Hayya al-Asadie: Aku mengutusmu sebagaimana Rasulullah pernah mengutus aku, yaitu bahwa tidak boleh engkau membiarkan satupun patung melainkan hendaklah engkau hancurkan dia dan (tidak boleh engkau biarkan) sesuatu kuburan yang tinggi, melainkan hendaklah engkau ratakan dia. (HSR. Muslim dan Ahmad).

Keterangan:

  1. Riwayat dari Jabir itu menunjukkan terlarang mendirikan apa-apa di atas kuburan dan terlarang menambah apa-apa diatasnya.
  2. Riwayat dari ‘Ali menunjukkan bahwa kubur yang sudah pernah ditinggalkan orang, hendaklah diratakan.

“Mentegel”, “mengubin” dan “memberi atap” termasuk dalam kata-kata “didirikan” yang ada di riwayat Jabir tersebut.

Oleh karena itu, terlarang mentegel, mengubin dan memberi atap atas sesuatu kuburan.

Bangunan Pada Kuburan Nabi saw

Soal:
Bolehkah kuburan Islam diberi bangunan di atasnya? Mengapa makam Nabi dan shahabatnya ada bangunan? Begitu juga Jendral Sudirman?

Jawab:
Di al-Muslimun (lihat soal diatas -admin), sudah tersebut larangan Agama membangun di atas sesuatu kuburan Islam. Diperintah oleh Rasulullah saw supaya diratakan kubur-kubur itu. Ini pokok dari Agama kita. Siapa saja yang melanggarnya tentulah kita katakan ia salah.

Sekarang mari kita periksa bagaimana bentuk kuburan Nabi dan shahabat-shahabatnya.

Menurut riwayat, Rasulullah wafat di Madinah dalam rumah ‘Aisyah. Kata ‘Aisyah:

فلماكان يومي قبضه الله،.. بين سحري ونحري ودفن في بيتي

Artinya: …Tatkala tiba giliran (Nabi) di rumahku, maka Allah ambil beliau ketika sedang bersandar di dadaku, dan ditanam di rumahku. (HSR. Bukhari).

Sepanjang tarikh, rumah ‘Aisyah terletak di pinggir sebelah timur masjid Nabi saw, dan rumah ‘Aisyah ini pada permulaannya diluar dari batas masjid Nabi saw.

Dekat kuburan Nabi saw yang di dalam rumah ‘Aisyah ini, ada pula kuburan Abu Bakar dan Umar.

Kuburan Nabi dan shahabat-shahabatnya ini pada asalnya rata dan tidak ada bangunan apa-apa di atasnya. Kata al-Qasim bin Muhammad,

دخلت على عائشة فقلت ياامه اكشفي لي عن قبررسول الله ص وصاحبيه فكشفت له عن ثلاثت قبور لامشرفة ولاطئة

Artinya: Saya masuk ke rumah ‘Aisyah, lalu saya berkata: “Wahai ibu, tolong unjukkan kepadaku kuburan Rasulullah saw dan kuburan dua shahabat beliau (Abu Bakar dan Umar)”. Kemudian ‘Aisyah menunjukkan kepadanya tiga kuburan yang tidak tinggi dan tidak terlalu rata… (HR. Abu Dawud dan Hakim).

Kejadian tersebut di masa pemerintahan Mu’awiyah antara tahun 41 dan 60 H, sedang Rasulullah wafat pada tahun 11 H.

Dalam pemerintahan Umar bin Abdul Aziz, kuburan Nabi saw ditinggikan orang sampai empat jari.

Demikianlah sedikit demi sedikit ditambah-tambah sampai seperti keadaan sekarang yang sangat bertentangan dengan larangan-larangan Nabi dalam hal ini.

Rasulullah saw yang telah memberi hukum harus diratakan tiap-tiap kuburan, kalau dapat memberi tahu kepada kita bahwa kuburan beliau dibangun dan dipuja-puja orang, pasti beliau akan memerintahkan supaya diratakan.

Shahabat-shahabat beliau, terutama Khulafa-urrasyidin yang mentaati larangan Nabi, tentu tidak akan membangun atau meninggikan sesuatu kuburan.

Mereka tidak akan ridha kuburan-kuburan mereka ditinggikan, malah kalau dapat, tentu mereka akan menyuruh supaya diratakan, seperti perbuatan Khalifah Ali.

Sesudah kita mengetahui hukum dan riwayat-riwayat kuburan Nabi saw di atas, dapatlah kita mengambil kesimpulan bahwa perbuatan-perbuatan ummat Islam yang menyalahi hukum-hukum Agamanya, tidaklah patut menjadi contoh bagi yang insyaf.

Demikian pula dengan makam Jendral Sudirman dan lain-lain yang sudah ada dan akan diperbuat oleh manusia walau bagaimanapun banyaknya, tidak dapat menjadi alasan untuk ummat yang semata-mata berpedoman kepada Qur’an dan Hadits.

Oleh: al-Ustadz Abdul Qadir H.

Komentar»

1. peracikjamu - 28 September 2010

Setuju dan sangat setuju.
Salam sukses, Bos..

al-Bandari - 12 Oktober 2010

Baiklah, padahal banyak juga yang menentang tuh, maklum di negeri kita ini sudah jadi budaya….
Wallahu a’lam.

2. Buyung - 19 Oktober 2010

menurut saya salah satu manfaat yang besar jika makam tidak dibangun dengan keramik atau tegel adalah akan jika terjadi hujan maka air di sekitar makam akan terserap tanah, dan itu sangat baik untuk keseimbangan alam

al-Bandari - 19 Oktober 2010

Alhamdulillah, saya justru baru menyadari hal itu. Thanks. Memang benar, akan memperbesar daya resap air kedalam tanah dan berfungsi sebagai biopori juga.

3. Abdi - 29 Oktober 2010

Assalamu’alaikum, saudara admin dan komentator, mungkin saudara”ku hanya belajar dari buku dan pengajian umum tidak belajar dengan spesifik atau saudaraku tidak mempunyai guru tapi maaf ternyata saudaraku sudah berani komentar macam” di dunia maya yang dibaca jutaan ummat di seluruh bumi, silahkan kaji lagi dari kata” yg saudara admin ketik saja ternyata saudaraku sudah kena senjata makan tuan dan admin bukan seorang yg paham dengan ilmu nahwu shorof(struktur bahasa dan kosa kata) silahkan baca berulang”
“belajar Riwayat dari ‘Ali menunjukkan bahwa kubur yang sudah pernah ditinggalkan orang, hendaklah diratakan.”
dan saya pesan kepada saudara”ku belajar dari buku terjemah dan bacaan serta pengajian umum yang ada tanya jawabnya itu baik bagus tapi alangkah lebih utama jika anda mempunyai guru yang bertanggung jawab dengan keilmuan yang di didiknya
Wassalamu’alaikum

al-Bandari - 29 Oktober 2010

Wa’alaikum salam.
Terima kasih atas tanggapan anda. Postingan itu memang berasal dari sang guru itu sendiri, yaitu al-Ustadz Abdul Qadir H. Semoga maklum.
Wassalam.

4. Abdi - 29 Oktober 2010

o.. ternyata itu dari guru dan anda sendiri belum memahami/meyakini betul kenapa anda berani menyebarkan?
oleh karena ketidakyakinan dan ketidakfahaman anda seluruhnya tentang permasalahan ini anda tidak berani menanggapi argumen saya.
ironis dan menggelikan.

5. Abdi - 31 Oktober 2010

anda saya ajak duduk untuk membicarakanya tp kenapa anda malah menghindar?
sadarkah anda telah membuat masalah dan ketika orang lain mengajak anda untuk duduk bersama untun membicarakanya anda malah menghindar, klo anda seperti itu sama dengan membuat kerusakan. ISLAM TIDAK SEPERTI ITU BUNG!!!
mari duduk bersama kita bicarakan silahkan sharing dengan guru anda.

6. Abdi - 2 November 2010

memalukan berani posting tak siap ditentang kalian kira semua orang punya pikiran sama seperti kalian, woi… muka” Bid’ah keluar lu!!! silahkan pilih mau dari jalur manapun saya siap termasuk ketemu langsung dengan kalian orang” tak bertanggung jawab. Pengecut!!!

7. Chaedar - 8 November 2010

@abdi, sabar akh…kalo memang ada yg lebih shohih dari keterangan diatas, mohon diberi pencerahannya… Terus terang ana juga ingin tau permasalahan tsb. Atau kirim ke email ana aja, qoimfatih@gmail.com makasih

8. Abdi - 9 November 2010

enak aja nt-nt semua gelar perkara diluar mau diselesaikan pribadi dengan cara ana kirim pesan ke email nt, yang baca jutaan orang bung.. bukan masalah mau pamer tapi ini harus diluruskan anda jangan menyembunyikanya.
saya mau tanya dan jawab dengan hati dan pikiran nt-nt semua.
1. nt-nt semua termasuk orang berbangsa, bernegara dan berbudaya ?
2. apa nt-nt semua rela budaya nt diambil bangsa dan negara orang lain ?
3. apa nt-nt semua terima jika nt punya satu karya atau alat atau apa saja dan orang lain merampas hak ciptanya ?
JANGAN DULU NGOMONGIN SHOHIH MASIH JAUH BANGET BUNG..!!!
monggo… silahkan jawab Boss..

9. Abdi - 13 November 2010

chaedar, bandar, buyung dan tukang jamu nt semua emang ga tanggung jawab ya, ternyata nt semua orang pendidikan yang moderen, yang malu belajar agama langsung menghadap ke guru hasilnya seperti ini salah mengaplikasikan pendidikan agama hanya tau dari dunia maya hati-hati dengan agama bung jangan buat mainan.
emang nt semua ga malu, sombongnya mau ngomongin shohih diajak ngobrol biasa saja nt semua lari.
makanya ngaji jangan cuma tau dalil bid’ah asal aja ngomong, klo pegangan nt semua hadits itu nt semua juga kena. memalukan orang pinter ga bener kaya nt semua.
KALAU MISALKAN MAKAM BAGINDA ROSULULLOH MUHAMMAD SAW. DIRATAKAN!!!!! APA NT SEMUA MAU YANG JADI TUKANG GUSURNYA!!!!!
KLO NT SEMUA MAU… BILANG SAMA ANA, ONGKOS PP ANA TANGGUNG, BAYARAN MINTA AJA NT SEMUA MAU BERAPA DAN BERAPAPUN NT SEMUA MINTA ANA KASIH.
makanya dikaruniai otak buat mikir dipake…
muke lu jauh.. bahas “Hukum Mengatapi Kuburan dan Bangunan Pada Kuburan Nabi” napas buang air ma kentut aja lu masi ngutang. apa ga malu ngajak orang ngomong shohih sementara nt sendiri lari, ana ingatkan!!!
ISLAM TIDAK SEPERTI ITU BUNG!!!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: