jump to navigation

Jalan Untuk Bercerai Dari Suami 30 September 2010

Posted by yopie noor in Fiqih.
Tags: , , , ,
trackback

Soal:
Seorang isteri yang sah dari seorang suami bertahun-tahun tidak diberi belanja nafkah dan tidak pula bergaul dengan isteri. Si isteri sudah berkali-kali minta cerai tetapi tidak berhasili. Maka bagaimana jalannya supaya si isteri ini keluar dari ikatan suaminya itu, dan bagaimana hukumnya?

Jawab:
Seorang suami diwajibkan Agama memberi nafkah kepada isterinya. Sabda Nabi saw:

الاوحقهن عليكم ان تحسنوا اليهن فى كسوتهن وطعا مهن

Artinya: Ketahuilah hak-hak isteri atas kamu, ialah kamu berlaku baik kepada mereka tentang memberi pakaian dan memberi makan mereka. (HR. Turmudzy).

Kalau suami tidak memberi nafkah dengan tidak ada sebab yang dapat dianggap, maka berdosalah dia.

Terhadap kejadian seperti yang ditanyakan itu, si isteri boleh minta dicerailkan dari suaminya.

Diriwayatkan:

ان النبي ص فى الرجل لايجد ماينفق على امر أته قال يفرق بينهما

Artinya: Bahwa Nabi saw pernah bersabda tentang orang yang tidak dapat membelanjai isterinya: “Dipisahkan antara kedua-duanya”. (HR. Daraquthny dan Baihaqy).

Hadits ini dikuatkan dengan riwayat dari Syafi’i, Abdurrazaq, Ibnul Mundzir, Aa’id bin Mashur dan lain-lain.

Jalan untuk keluar dari ikatan laki-laki itu adalah: si isteri pergi kepada hakim Pengadilan Agama yang mengurus perkawinan, lalu ceritakan keberatan-keberatan itu kepada si Hakim. Sesudah diperiksa kalau Hakim dapat menerima pengaduan isteri, tentu dapat diceraikan. Perceraian ini dinamakan Fasakh.

Kalau Hakim tidak suka menerima dan mengurus pengaduan perempuan itu, boleh ia minta supaya Hakim menceraikan antara dia dengan lakinya dengan mengembalikan mahar dari suami saja, tidak lebih dari itu.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata:

جاءت امرأة ثابت بن قيس بن شماس الى رسول الله ص فقالت يارسول الله ااني مااعتب عليه في خلق ولادين ولكن اكره الكفر فى الاسلام فقال رسول الله ص اتردين عليه حد يقته قالت نعم فقال رسول الله ص اقبل الحديقة وطلقها تطليقة

Artinya: Isteri Tsabit bin Qais bin Syammas datang kepada Rasulullah saw. Ia berkata: Ya Rasulullah! Sesungguhnya saya tidak mencela Tsabit tentang kelakuannya dan tidak pula tentang Agamanya, tetapi saya takut kufur (tidak dapat melakukan kewajiban bersuami isteri) dalam Islam. Sabda Rasulullah saw: “Maukah engkau mengembalikan kebunnya?”. Jawabnya: “Mau”, lalu Nabi berkata (kepada Tsabit): “Terimalah kebunmu itu, dan ceraikanlah dia satu thalaq”. (HR. Bukhari dll).

Kebun Tsabit itu asalnya sebagai mahar kepada isterinya. Yang Nabi suruh kembalikan hanya kebunnya saja.

Di riwayat lain diterangkan bahwa tebusan itu tidak boleh ditambah-tambah.

Hakim yang mengerti dan sadar, dengan segera akan menceraikan antara kedua suami-isteri itu.

Tetapi kalau Hakimnya berat sebelah, tentu hal tersebut akan dipersukar atau menjadi sukar bertahun-tahun.

al-Ustadz Abdul Qadir H.

Komentar»

1. Abdi - 10 November 2010

kenapa yang kemaren ditutup bos?
saya ingatkan “ISLAM ISLAM TIDAK SEPERTI ITU BOS”
Mulut lu AhluSunnah tapi ternyata kelakuan lu WAHABI


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: