jump to navigation

Minum Air Susu Isteri 29 Oktober 2010

Posted by yopie noor in Fiqih.
Tags: , , , , , ,
trackback

Soal:
Anak perempuan saya telah dicerai oleh lakinya, karena dianggap sebagai ibunya dengan sebab bergurau suami isteri, sehingga si suami meminum air susu isterinya. Perceraian ini belum saya terima karena naib di tempat kami tidak dapat memberi putusan. Oleh karena itu, harap pertolongan bapak mengirim putusannya pada saya.


Jawab:
Nabi Muhammad pernah bersabda:

لاتحرم الرضعة اوالرضعتان

Artinya: Sekali atau dua kali menetek tidak mengharamkan. (HS. Muslim).

Ada pula sabda Nabi saw begini:

لاتحرم الخطفة والخطفتان

Artinya: Sekali menyusu dengan lintasan dan dua kali menyusu dengan lintasan itu, tidak mengharamkan. (HS. Nasa’i).

Dilain Hadits Rasulullah bersabda:

لاتحرم الاملاجة والاملاجتان

Artinya: Sekali menyusui dan dua kali menyusui itu, tidak mengharamkan. (HS. Muslim).

Tiga Hadits dengan tiga macam lafadz tersebut menunjukkan bahwa:

  1. apabila seorang menetek kepada seorang perempuan asing sekali atau dua kali
  2. apabila seorang menyusu secara lekas-lekas kepada seorang perempuan asing, sekali atau dua kali
  3. apabila seorang perempuan asing menyusui seseorang, sekali atau dua kali

Maka tiga macam sifat penyusuan itu tidak menjadikan laki-laki yang menyusu itu haram kawin dengan perempuan yang menyusuinya.

Dalam Hadits-hadits tersebut dan lain-lain yang tidak tercantum disini, juga tidak ada dibeda-bedakan antara penyusuan anak-anak dan orang yang sudah dewasa. Jadi, dalam hukum penyuptan itu termasuk penyusuan anak-anak dan penyusuan orang yang sudah dewasa.

Malah penyusuan orang dewasa ini pernah terjadi di zaman Nabi saw sebagaimana riwayat berikut:

‏ عن عائشة ان سالمامولى ابي حذيفة كان مع ابي حذيفة واهله في بيتهم فاتت (تعنى ابنة سهيل) النبي ص فقالت ان سالما قدبلغ مايبلغ الرجال وعقل ماعقلواوانه يدخل عليناواني اظن ان في نفس ابي حذيفة من ذلك شيئا فقال لهاالنبي ص ارضعيه تحر مي عليه ويذ هب الذي في نفس ابي حذ يفة فرحعت فقالت اني قدارضعته فذهب الذي في نفس ابي حذيفة

Artinya: Dari Aisyah, bahwa Salim, anak angkat Abi Hudzaifah adalah bersama Abi Hudzaifah dan isterinya di rumah mereka. Lalu ia (yakni anak perempuan Suhail) datang kepada Nabi saw dan berkata: “Bahwa sesungguhnya Salim telah baligh sebagaimana orang-orang yang telah baligh dan ia berfikiran sebagaimana orang berfikir dan sesungguhnya ia biasa keluar masuk di rumah kami. Sebenarnya aku rasakan ada sesuatu yang tidak menyenangkan Abi Hudzaifah terhadap itu”. Maka Nabi bersabda kepadanya: “Susuilah dia, maka (dengan demikian) engkau menjadi haram (kawin) kepadanya, dan tentu hilanglah perasaan yang ada pada Abi Hudzaifah itu”. Lalu ia pulang, lalu ia berkata: Sesungguhnya aku telah menyusui dia, maka hilanglah perasaan (tidak enak) yang ada pada Abi Hudzaifah. (HS. Muslim).

Tiga Hadits yang tersebut dipermulaan mengatakan sekali dua kali penyusuan tidak menjadikan haram perkawinan. Timbul pertanyaan: “Berapa susuan mengharamkan?”. Secara biasa, orang akan faham bahwa yang dapat mengharamkan perkawinan itu ialah tiga kali penyusuan, sebab sekali dan dua kali tidak menjadikan haram.

Orang yang berpegang kepada faham ini, tentu menetapkan bahwa tiga kali susuan itulah yang menjadikan haram perkawinan antara yang menyusu dan yang menyusuinya.

Tetapi dari kejadian di masa Nabi saw kita dapati bahwa lima kali susuan yang mengharamkan perkawinan itu, yaitu tatkala Nabi menyuruh Sahlah binti Suhail menyusui Salim tersebut dalam riwayat Muslim diatas, Nabi bersabda kepadanya:

ارضعيه خمس رضعات

Artinya> “Susuilah Salim lima kali susuan”. (HR. Malik).

RINGKASAN

Keterangan-keterangan diatas dapat kita ringkaskan demikian:

  1. penyusuan sekali atau dua kali belum mengharamkan perkawinan.
  2. penyusuan lima kali baru mengharamkan perkawinan.
  3. penyusuan lima kali ini tidak mesti berturut-turut, sebab dalam Hadits-hadits tidak ada keterangannya: Jadi, boleh berpisah-pisah atau berangsur-angsur.
  4. dalam penyusuan yang ditujukan oleh Hadits-hadits Nabi itu, termasuk penyusuan anak-anak dan juga orang yang sudah dewasa, laki-laki dan perempuan.
  5. yang dimaukan dengan penyusuan itu, adalah minum (menghisap) air susu perempuan dari puting susunya sehingga ditelannya.

Demikianlah hukum-hukum pokok tentang penyusuan.

Terhadap kejadian atas diri anak saudara (penanya) itu, hendaklah lebih dulu saudara periksa:

  1. adakah suaminya itu menghisap sampai lima kali?
  2. adakah yang dihisapnya itu betul-betul susu dari puting susunya anak saudara itu?
  3. adakah air susu itu ditelan?

Kalau ada fasal ini, maka tidaklah mereka menjadi suami isteri lagi, tetapi menjadi anak dan ibu susu.

Sekian dulu.

al-Ustadz Abdul Qadir H.

Komentar»

1. Abdi - 10 November 2010

kenapa yang kemaren ditutup bos?
saya ingatkan “ISLAM ISLAM TIDAK SEPERTI ITU BOS”
Mulut lu AhluSunnah tapi ternyata kelakuan lu WAHABI


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: